INSIBERNEWS – Setiap tahun jutaan umat Islam dari seluruh dunia berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan rukun Islam kelima, ibadah haji.
Tapi di balik segala semangat dan antusiasme menapaki jejak spiritual Nabi Ibrahim dan Rasulullah SAW, ada satu pesan sederhana namun krusial dari Menteri Agama Nasaruddin Umar: jangan terlalu sibuk mengejar yang sunah sampai melupakan yang wajib.
Baca Juga: Ikut Program Tanazul, Jemaah Haji Tak Wajib Bayar Dam Meski Tak Mabit di Mina
Hal ini bukan sekadar nasihat biasa. Menag yang juga ditunjuk sebagai Ketua Amirulhajj 2025 mengingatkan jemaah Indonesia bahwa keberhasilan haji bukan hanya soal berangkat dan pulang dengan oleh-oleh.
Yang utama adalah apakah syarat dan rukun haji sudah dijalankan dengan benar—karena kalau sampai salah, ibadah bisa jadi tidak sah.
Menurut Menag, pelayanan terbaik sekalipun—hotel nyaman, makanan enak, bus ber-AC—tidak ada artinya jika inti ibadah hajinya justru tidak dipahami dan dijalankan.
Maka dari itu, Kemenag mengirimkan tim pembimbing ibadah, termasuk Mustasyar Dini, agar tidak ada jemaah yang gagal haji hanya karena kurang pengetahuan.
Baca Juga: Menag Nasaruddin Umar: Persoalan Haji 2025 Berhasil Diurai dengan Baik
Menariknya, ada kecenderungan sebagian jemaah terlalu fokus mengejar amalan sunah seperti salat arbain di Madinah, padahal kondisi fisik sudah tidak memungkinkan. Ini yang dikhawatirkan Menag.
Jangan sampai kelelahan karena ibadah sunah justru membuat jemaah tumbang saat puncak wukuf di Arafah, yang hukumnya wajib.
Untuk itu, Menag juga mengimbau petugas kloter dan pembimbing agar aktif membantu jemaah dalam menyusun skala prioritas ibadah.
“Yang wajib itu harga mati,” begitu kira-kira pesannya.
Dan yang tak kalah penting: jaga kesehatan, jangan memaksakan diri. Ingat, haji adalah ibadah fisik dan mental yang cukup berat.
Baca Juga: Visa Furoda 2025 Dihentikan Arab Saudi, BP Haji: Jangan Tertipu Biro Nakal!