INSIBERNEWS – Warga di Cibodas, Kota Tangerang, mengungkapkan kekecewaannya atas sulitnya mendapatkan LPG 3 kilogram (kg).
Antrean panjang yang terjadi di pangkalan di Jalan Palem Raya pada Selasa (4/2) membuat warga geram. Mereka menilai kebijakan distribusi gas bersubsidi semakin menyulitkan masyarakat kecil.
Baca Juga: Ledakan Bom Guncang Moskow, Pemimpin Separatis Ukraina Tewas dalam Serangan
Seorang warga, Bonar, mengaku harus mengantre sejak pukul 07.00 pagi demi mendapatkan satu tabung gas. Namun, hingga menjelang siang, gas yang dinanti tak kunjung tersedia.
Bonar menilai pemerintah, khususnya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, gagal dalam mengelola distribusi LPG 3 kg. Ia pun mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk segera mengevaluasi kinerja sang menteri.
Baca Juga: Bersikap Optimis, BRI Mampu Tumbuh Berkelanjutan dengan Menjaga Kinerja Fundamental yang Solid
"Kalau barangnya ada, saya beli saja meskipun harganya Rp22-25 ribu. Tapi ini barangnya susah. Kalau bisa, menterinya dicopot saja, bilangin Prabowo," ujar Bonar dengan nada kesal.
Baca Juga: Trump Ajak Ukraina Capai Kesepakatan Akses Logam Tanah Jarang Sebagai Syarat Dukungan AS
Kondisi serupa dialami Peris, warga Tangerang lainnya. Ia memilih membeli gas di warung meskipun harga lebih mahal karena tidak perlu mengantre lama.
"Di warung harganya lebih mahal, Rp22-23 ribu, tapi lebih enak karena bisa langsung diantar ke rumah. Kalau harus antre berjam-jam di pangkalan, ya mending beli di warung saja," katanya.
Baca Juga: Filipina Umumkan Keadaan Darurat Pangan untuk Menanggulangi Kenaikan Harga Beras
Keluhan juga datang dari Siti, pedagang kue kering yang bergantung pada gas untuk produksi dagangannya. Baginya, keterlambatan mendapatkan LPG bisa berdampak pada usahanya.
"Kalau gas susah, produksi jadi terganggu. Ini merugikan kami sebagai pedagang kecil," ungkapnya. Warga berharap pemerintah segera mencari solusi agar distribusi LPG 3 kg lebih lancar dan tidak menyulitkan rakyat kecil.