INSIBERNEWS - Markus Thielen memprediksi bahwa Bitcoin akan memulai Januari dengan optimisme pasar menjelang pelantikan Presiden AS pada 20 Januari. Kenaikan ini didukung oleh sentimen positif yang kerap menyertai peristiwa politik besar.
Namun, momentum ini diperkirakan akan melambat sebelum data inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI) dirilis pada 15 Januari. Inflasi yang menurun bisa memperbarui optimisme, mendorong reli harga Bitcoin lebih jauh.
Risiko dari Keputusan Federal Reserve
Keputusan FOMC (Federal Open Market Committee) pada 29 Januari akan menjadi faktor penting yang menentukan arah Bitcoin. Berdasarkan data CME Group’s FedWatch Tool, ada probabilitas 88,8% bahwa suku bunga tetap di kisaran 425-450 basis poin.
Pengaruh Fed terhadap Bitcoin terbukti pada Desember 2024, ketika pengurangan proyeksi pemotongan suku bunga menyebabkan penurunan Bitcoin hingga 15%. Thielen menekankan bahwa komunikasi Fed tetap menjadi "risiko utama" bagi pasar kripto.
Prediksi Harga Bitcoin
- Thielen: Harga Bitcoin diperkirakan mencapai $97.000–$98.000 pada akhir Januari.
- John Glover (Ledn):
- Bitcoin mungkin turun ke $89.000 sebelum melonjak hingga $125.000 pada akhir kuartal pertama.
- Harga kemudian diprediksi mundur ke $100.000 sebelum mencapai $160.000 pada akhir 2025 atau awal 2026.
- VanEck & Bitwise: Prediksi optimis hingga $200.000.
Sentimen Pasar
Pada 5 Januari, Indeks Ketakutan dan Keserakahan Kripto mencatat skor 76, masuk ke zona "Keserakahan Ekstrem". Hal ini mencerminkan sentimen positif, dengan harga Bitcoin mencapai $98.850.
Kesimpulan
Januari 2025 diperkirakan akan menjadi bulan yang dinamis bagi Bitcoin. Meskipun terdapat risiko koreksi harga sebelum pertemuan FOMC, prospek jangka panjang tetap cerah, terutama jika inflasi menurun dan investor institusional kembali aktif. Investor disarankan untuk tetap waspada terhadap perkembangan kebijakan Federal Reserve dan tren pasar global.
Catatan: Informasi ini bukan rekomendasi investasi. Selalu lakukan penelitian mendalam sebelum mengambil keputusan investasi.