INSIBERNEWS - Isu tentang serangan ransomware yang menimpa PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang muncul beberapa waktu lalu ternyata merupakan kabar palsu atau hoaks.
Klaim tersebut beredar luas setelah kelompok yang dikenal sebagai Bashe Ransomware mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap sistem teknologi informasi bank BUMN terbesar di Indonesia ini.
Namun, setelah penyelidikan lebih lanjut, banyak yang meragukan kebenaran klaim tersebut.
Teguh Aprianto, seorang konsultan keamanan siber, menjadi salah satu pihak yang meragukan klaim ini. Dalam akun media sosialnya, Teguh mengungkapkan bahwa sejak awal, dirinya merasa ada yang tidak beres dengan data yang dipublikasikan oleh Bashe Ransomware.
Baca Juga: Lee Junho Hadapi Audit Pajak, JYP Entertainment Tegaskan Tak Ada Penggelapan
Menurutnya, file yang mereka unggah sebagai bukti tidak cukup meyakinkan, dengan hanya berisi satu file Excel dengan 100 baris data yang ternyata juga bisa ditemukan di berbagai dokumen online lainnya.
“Data yang mereka lampirkan hanya berisi 100 baris data, yang nyatanya sudah tersedia di situs seperti Scribd dan Pdfcoffee. Itu bukti yang sangat lemah untuk sebuah kelompok ransomware yang mengklaim telah membobol data besar,” ungkap Teguh dalam postingannya.
Baca Juga: Beras Premium Bebas Pajak 12 Persen, Ini Penjelasan Lengkap Kepala Bapanas
Dirinya pun memilih untuk tidak meneruskan pemberitaan tentang serangan tersebut karena tidak menemukan bukti yang valid.
Isu serangan ini pertama kali mencuat pada 18 Desember 2024, melalui akun X @FalconFeedsio yang menginformasikan bahwa BRI telah menjadi korban Bashe Ransomware.
Baca Juga: Waduh! Viral Video Rapat Sekolah yang Wajibkan Orang Tua Beli Tempat Makan
Namun, setelah ditelusuri lebih jauh, akun tersebut juga memberikan klarifikasi bahwa laporan serangan tersebut hanyalah hoaks.
Bashe, yang ternyata juga dikenal dengan nama APT73 dan Eraleig, adalah kelompok siber yang baru muncul pada April 2024 dan diduga merupakan pecahan dari kelompok ransomware besar, LockBit.