news

Ransomware yang Serang BRI Ternyata Janggal, Pakar IT Sebut Data Hacker Ternyata Terdapat di Scribd

Kamis, 26 Desember 2024 | 13:40 WIB
Ransomware yang Serang BRI Ternyata Janggal, Pakar IT Sebut Data Hacker Ternyata Terdapat di Scribd (Istimewa )

INSIBERNEWS - Masyarakat sempat dihebohkan dengan isu Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang menjadi korban Ransomware beberapa hari lalu berdasarkan klaim Bashe.

Membuat khawatir masyarakat, kabar mengenai serangan Ransomware ini dimulai dari unggahan akun @FalconFeedsio di X pada 18 Desember 2024.

Sebelumnya, akun @FalconFeedsio di X, menulis status, "Ransomware Alert. Bank Rakyat Indonesia, has fallen victim to Bashe Ransomware." Dalam bahasa Indonesia artinya, "Peringatan Ransomware. Bank Rakyat Indonesia, telah menjadi korban Bashe Ransomware".

Baca Juga: Nikmati Liburan Tanpa Khawatir, BRI Mudahkan Pembelian Asuransi Melalui Super Apps BRImo

Peringatan itu masih belum bisa dipastikan kebenarannya. Namun cuitan itu telah berhasil menarik perhatian masyarakat, yang jadi mengetahui ada sekelompok Ransomware di dunia maya bernama Bashe.

Siapa Bashe? Kelompok yang mengaku hacker ini sebelumnya dikenal sebagai APT73 atau Eraleig, yakni kelompok Advanced Persistent Threadt (APT).

Mereka mulai meresahkan dunia internet pada tahun 2024 dengan menyebarkan klaim Ransomware.

Biasanya kelompok Ransomware bergerak dengan motif finansial. Target Ransomware tersebar ke seluruh penjuru dunia, mulai dari Amerika Utara, Perancis, Jerman, Inggris Raya, Australia, hingga India. Mereka menarget berbagai sektor bernilai tinggi seperti manufaktur dan perbankan.

Baca Juga: Racikan Bumbu Marinasi Homemade untuk Sate Vegetarian Cita Rasa Daging Legit

Kelompok hacker Ransomware Bashe bahkan menetapkan tenggat tebusan pada Senin, 23 Desember 2024 Pukul 16.00 WIB. Kelompok tersebut mengancam akan jual data yang diperoleh kepada pihak ketiga jika BRI tidak menebusnya. Bashe menetapkan tebusan senilai 5 Bitcoin atau setara dengan Rp7,9 miliar.

Ransomware Janggal dan Grup Hacker Terkocak

Peristiwa ini menarik perhatian seorang pakar atau konsultan Cybersecurity Teguh Aprianto, yang juga seorang Founder of Ethical Hacker Indonesia.

Saat mendengar isu ini, Teguh Aprianto mengaku merasa janggal. Karena data yang diklaim tidak meyakinkan, Teguh enggan berkomentar di awal isu ransomware mencuat.

Baca Juga: Mirip Sinetron Indonesia, Berikut Beberapa Momen Tidak Masuk Akal Drama Korea When The Phone Rings!

Halaman:

Tags

Terkini