INSIBERNEWS - Malaysia tengah menghadapi ancaman banjir besar seiring datangnya musim hujan.
Wakil Perdana Menteri Zahid Hamidi memperingatkan bahwa bencana kali ini berpotensi menjadi yang terburuk dalam satu dekade terakhir, bahkan diperkirakan melampaui Banjir Kuning 2014 yang memaksa lebih dari 200.000 warga mengungsi.
Hingga Rabu (28/11/2024), Perdana Menteri Anwar Ibrahim melaporkan bahwa banjir telah menyebabkan sekitar 37.000 orang harus meninggalkan rumah mereka.
Sebagian besar pengungsi, yakni 80 persen, berada di Negara Bagian Kelantan. Namun, hanya berselang beberapa jam, jumlah pengungsi melonjak drastis.
Baca Juga: Kabar Baik untuk Guru: Gaji Naik dan Sertifikasi Guru Bertambah di 2025
Pada pukul 20.30 waktu setempat, total warga yang mengungsi akibat banjir di seluruh Malaysia tercatat mencapai 63.219 orang.
Zahid Hamidi menjelaskan bahwa pemerintah telah mengambil langkah cepat dengan menggelar rapat darurat Komite Penanggulangan Bencana Nasional.
"Kami bersiap menghadapi kemungkinan banjir yang lebih parah, terutama karena fenomena pasang air laut yang diprediksi pekan depan. Ini akan memperlambat aliran air hujan dari daerah hulu ke Laut China Selatan," katanya dalam pernyataan resmi.
Baca Juga: Soal Uang Donasi, Ayah Agus Bicara Hukum Agama, Haram Hukumnya Mengambil Yang Sudah Diberikan
Di Kelantan, dampak banjir terasa semakin berat. Menteri Besar Kelantan Nassuruddin Daud membandingkan kondisi terkini dengan bencana pada 2014.
Dalam unggahan di media sosial, ia memperlihatkan air yang sudah mencapai tangga rumahnya di Kampung Meranti, dekat Kota Bharu.
"Tinggi muka air naik dengan cepat, dan hujan diperkirakan masih akan terus turun selama beberapa hari ke depan," tulisnya.