INSIBERNEWS - Setelah perjanjian gencatan senjata diumumkan antara Hizbullah dan Israel, kelompok militan Hizbullah asal Lebanon berjanji untuk melanjutkan perlawanan dan dukungannya terhadap Palestina, termasuk terhadap para pejuang Palestina.
Dalam pernyataan pertama mereka sejak kesepakatan tersebut diumumkan, Hizbullah tidak menyebutkan gencatan senjata secara langsung, namun menegaskan kesiapan pasukan mereka untuk terus beroperasi melawan Israel.
Perlawanan Terus Berlanjut
Pusat operasi Hizbullah menyatakan bahwa "para pejuangnya di semua disiplin militer akan tetap sepenuhnya siap menghadapi ambisi dan agresi musuh Israel," dan mereka akan terus memantau penarikan pasukan Israel dari Lebanon dengan kesiapan tempur.
Hizbullah juga menegaskan bahwa mereka akan mempertahankan posisi mereka di sepanjang perbatasan Lebanon dan siap bertindak jika pasukan Israel tidak sepenuhnya menarik diri.
Gencatan Senjata
Perjanjian gencatan senjata yang ditengahi oleh Amerika Serikat dan Prancis itu mengharuskan Israel untuk menarik pasukan mereka dari Lebanon selatan dalam waktu 60 hari.
Gencatan senjata ini mengakhiri beberapa bulan konfrontasi sengit antara Israel dan Hizbullah, yang telah menimbulkan korban jiwa di kedua belah pihak.
Namun, meskipun gencatan senjata dengan Hizbullah tercapai, Israel tetap melanjutkan serangannya terhadap Hamas di Jalur Gaza.
Latar Belakang
Kesepakatan ini menandai pengurangan ketegangan yang berlangsung lama di sepanjang perbatasan Lebanon-Israel, meskipun ketegangan lainnya, terutama yang berkaitan dengan konflik Palestina, masih berlanjut.
Hizbullah, yang memiliki hubungan erat dengan Iran, terus memperkuat posisinya sebagai pendukung utama perjuangan Palestina, meskipun dengan risiko lebih lanjut bagi stabilitas di wilayah tersebut.
Dengan adanya perjanjian gencatan senjata ini, banyak pihak yang memperkirakan bahwa pertempuran antara Hizbullah dan Israel mungkin akan mereda, tetapi komitmen Hizbullah untuk mendukung Palestina dan melawan Israel tetap menjadi agenda utama mereka.