INSIBERNEWS - Tragedi penyerangan yang dilakukan oleh 33 prajurit TNI terhadap desa di Deli Serdang, Sumatera Utara sedang diusut.
Serangan prajurit TNI tersebut mengakibatkan 1 warga tewas dan 8 warga luka-luka.
Namun dalam kejadian ini terdapat perbedaan kronologi yang disampaikan oleh Kepala Desa dan dari pihak TNI.
Baca Juga: Heboh! 7 Narapidana Narkotika Kabur dari Rutan Salemba Lewat Saluran Air Bikin Geger!
Dilansir INsibernews dari akun Instagram @najwashihab (13/11/2024), berikut adalah kronologi penyerangan menurut Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto:
- Diawali anak-anak muda yang kebut-kebutan motor pada Jumat (8/11/2024).
- Karena dianggap meresahkan masyarakat dan mengganggu jalan, para anak muda ditegur oleh anggota Pangdam I/BB.
Baca Juga: 3 Alasan Korea Utara Bakal Sulit Menang Lawan Iran, Nomor 1-2 Bagaikan Langit dan Bumi
- Anggota geng motor disebut tak terima ditegur.
- Terjadi adu mulut kemudian perkelahian massal.
Mengetahui hal tersebut, Kapendam I/Bukit Barisan, Kolonel Inf Dody Yudha menyatakan bahwa pihaknya akan mengusut tuntas kasus ini.
“Terkait peristiwa keributan yang melibatkan prajurit TNI AD, Pangdam I/Bukit Barisan memastikan akan mengusutnya secara tuntas,” ujar Kolonel Inf Dody Yudha.
Baca Juga: Drama Praperadilan Paman Birin! Hakim PN Jaksel Gugurkan Status Tersangka Gubernur Kalsel
Sedangkan menurut Bahrun selaku Kepala Desa Selamat, berikut adalah kronologi penyerangan prajurit TNI:
- Puluhan prajurit TNI tanpa seragam datang ke Desa Selamat sekitar pukul 22.00 WIB. Warga tidak mengetahui alasan kedatangan mereka.
- Prajurit yang datang mencari keberadaan seorang warga. Diduga, sebelumnya ada warga yang cekcok dengan anggota Armed saat di jalan.
- Menurut seorang korban, para anggota TNI mencari orang bernama Andre Ginting.
- Prajurit TNI kemudian menyerang warga di jalan, mendobrak rumah warga.
- Warga yang berada di dalam rumah, diseret keluar, dipukul, dan beberapa dihantam senjata tajam, double stick.
- Korban meninggal adalah Raden Barus (61). Ια adalah tokoh masyarakat yang dituakan di desa.***