INSIBERNEWS - Pekan ini, setidaknya enam misi bantuan medis yang beroperasi di Jalur Gaza menerima kabar mengejutkan dari pemerintah Israel, mereka tidak lagi diizinkan mengakses pasien yang membutuhkan perawatan.
Pengumuman ini datang dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada hari Kamis, 17 Oktober 2024, setelah pihak Israel memberi tahu kelompok-kelompok medis tersebut melalui pesan teks.
Baca Juga: Jepang Alami Krisis Tenaga Kerja, Peluang Pekerja Migran RI Untuk Masuk
Di antara organisasi yang terkena dampak adalah Fajr Scientific, Glia, dan Asosiasi Medis Palestina Amerika (Pama).
WHO menyatakan keprihatinan mendalam tentang dampak keputusan ini terhadap sistem kesehatan di Jalur Gaza, yang sudah sangat terbebani.
Hanya 17 dari 36 rumah sakit di wilayah itu yang masih berfungsi, dan tim medis darurat sangat penting untuk menjaga operasional sisa fasilitas kesehatan yang ada.
Baca Juga: Mendekati Hari Pelantikan Prabowo, Sejumlah Pimpinan Negara Mulai Hadir di Indonesia
Koordinator Kegiatan Pemerintah Israel di Jalur Gaza (COGAT) tidak memberikan penjelasan mengenai larangan akses ini, meninggalkan banyak pertanyaan tanpa jawaban.
WHO menegaskan bahwa akses berkelanjutan bagi tim medis darurat sangat penting, terutama di tengah kekurangan gizi dan meningkatnya penyakit yang melanda penduduk Jalur Gaza.
Sejak 1 Oktober, tidak ada bantuan makanan atau bantuan kemanusiaan lainnya yang masuk ke Jalur Gaza Utara, di tengah operasi militer besar-besaran yang dilakukan oleh tentara Israel.
Pusat Keadilan Internasional untuk Palestina (ICJP) menyatakan, "Ini adalah hukuman mati bagi ribuan pasien."
Mereka menambahkan bahwa organisasi-organisasi ini telah mengirimkan ratusan delegasi medis selama 12 bulan terakhir untuk memberikan bantuan yang sangat diperlukan bagi warga Palestina yang sakit dan terluka.
Baca Juga: Persis Solo vs Borneo FC: Ini Link Streaming BRI Liga 1 2024 Kick Off 19.00 WIB