news

Merasa Sembuh Lalu Setop Minum Antibiotik, Apoteker Ingatkan Bahaya Bakteri Kebal dan Biaya Berobat Membengkak

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:06 WIB
Ilustrasi antibiotik (foto: Istimewa)
INSIBERNEWS - Ancaman kekebalan bakteri atau resistensi antibiotik masih menjadi bom waktu yang terus membayangi dunia kesehatan di Indonesia.
 
Rendahnya pemahaman masyarakat terhadap aturan pakai obat-obatan, ditambah kebiasaan mendiagnosis penyakit secara mandiri, membuat tantangan medis ini kian sulit untuk diberantas secara tuntas.

"Masih berlangsung resistensi antibiotik di masyarakat. Itu sangat kita galakkan ya. Karena ketika sudah resisten berarti pengobatannya biayanya akan menjadi lebih meningkat lagi," tutur Apoteker dari Puskesmas Setiabudi, Hastuti, menyoroti dampak finansial dari masalah tersebut pada Minggu (18/10/2026).
 
Baca Juga: Terjebak Sejak Subuh di Parangkusumo, Upaya Warga Dorong Hiu Paus Raksasa ke Laut Berakhir Buntu

Hastuti membeberkan bahwa salah satu biang kerok utama dari resistensi ini adalah kebiasaan buruk pasien yang kerap menghentikan konsumsi obat secara sepihak.
 
Banyak orang merasa tubuhnya sudah bugar kembali, sehingga mereka memutuskan untuk membuang atau menyimpan sisa tablet yang seharusnya dihabiskan sesuai anjuran dokter.

"Jadi, ya itu penggunaannya kadang-kadang kalau sudah sehat, pasien ya sudah, berhenti. Padahal masih ada tablet tersisa. Nah, menginformasikan itu yang harus berulang kali supaya pasien paham kalau antibiotik harus dihabiskan," terangnya menekankan pentingnya edukasi tanpa henti.
 
Baca Juga: Kunjungi Indonesia, Sekjen PBB Antonio Guterres Bakal Bahas Nasib Multilateralisme dan Misi Perdamaian TNI

Lebih jauh, literasi mengenai penggolongan jenis obat di pasaran juga dinilai masih sangat minim.
 
Tidak sedikit warga yang mengabaikan arti logo lingkaran pada kemasan, sehingga mereka dengan nekat membeli obat berlabel keras secara bebas di apotek tanpa membawa secarik resep resmi.

"Banyak masyarakat itu ketika membeli obat di apotek, ada tanda-tanda khusus misalkan obat bebas, bebas terbatas, obat keras, itu yang masih tidak dipahami. Biasanya masyarakat itu juga mengikuti, ketika ada orang cocok menggunakan obat ini dia lantas ikut padahal belum diperiksa menyeluruh oleh dokter," keluh Hastuti.
 
Baca Juga: Tong Biru Berisi Rp1,9 Miliar Disita KPK, Diduga Jadi Tempat Bupati Klaten Simpan Uang

Mengingat kondisi klinis setiap individu sangatlah berbeda dan membutuhkan penanganan khusus, kebiasaan meniru resep orang lain dinilai sangat berbahaya.
 
Tenaga kesehatan mengimbau seluruh lapisan masyarakat agar menjadi konsumen cerdas yang selalu mengedepankan konsultasi medis demi menjaga keselamatan dan kesehatan jangka panjang.***

Tags

Terkini