• Minggu, 18 Oktober 2026

Canggu Mendadak Sepi Imbas Krisis BBM Bali, Anggota DPR Peringatkan Citra Pariwisata Indonesia

Photo Author
- Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:19 WIB
Suasana kawasan Canggu, Bali, yang terlihat sepi di tengah isu antrean BBM dan kekhawatiran terhadap sektor pariwisata. (Instagram/@bali_santuy)
Suasana kawasan Canggu, Bali, yang terlihat sepi di tengah isu antrean BBM dan kekhawatiran terhadap sektor pariwisata. (Instagram/@bali_santuy)
 

INSIBERNEWS - Kawasan wisata Canggu di Kabupaten Badung, Bali, yang biasanya hiruk-pikuk oleh aktivitas wisatawan mendadak terlihat lengang.
 
Pemandangan tak biasa ini mencuat di tengah krisis pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang memicu antrean panjang kendaraan bermotor di berbagai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Pulau Dewata.

Kondisi sepinya salah satu destinasi favorit turis mancanegara tersebut terekam jelas dalam sebuah tayangan video yang diunggah oleh akun TikTok @ceritadibali_ pada Minggu (18/10/2026).
 
Kelangkaan bahan bakar ini diduga kuat mulai melumpuhkan mobilitas para pelancong yang sangat mengandalkan kendaraan sewaan untuk berpindah dari satu lokasi wisata ke lokasi lainnya.
 

Terhambatnya akses transportasi akibat sulitnya mendapatkan bensin tentu membawa efek domino yang merugikan sektor pariwisata daerah.
 
Jika krisis energi ini dibiarkan berlarut-larut, roda perekonomian masyarakat lokal yang menggantungkan hidupnya pada kunjungan wisatawan ke restoran, penginapan, dan pantai dipastikan akan ikut tersendat.

Menyoroti ancaman serius terhadap urat nadi ekonomi Bali tersebut, Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi PAN, H. Totok Daryanto, mendesak pemerintah untuk segera mencari jalan keluar.
 
 
Ia mengingatkan bahwa krisis BBM di wilayah berstatus destinasi internasional tidak bisa dipandang sebelah mata karena berkaitan langsung dengan nama baik negara.

"Bagi Bali, kepastian pasokan BBM bukan hanya urusan energi, tetapi juga menyangkut kepercayaan wisatawan, keberlangsungan usaha masyarakat, dan reputasi pariwisata Indonesia," tegas Totok melalui keterangan tertulisnya menyikapi kelangkaan tersebut.

Menurut Totok, penghitungan kuota energi untuk Bali harus mempertimbangkan karakteristik wilayahnya yang unik.
 
Kebutuhan bahan bakar di Pulau Dewata tidak hanya diukur dari jumlah penduduk tetap, melainkan juga harus mengakomodasi tingginya mobilitas jutaan wisatawan, operasional transportasi umum, serta lonjakan aktivitas ekonomi pada musim liburan.

"Jangan sampai persoalan distribusi BBM yang seharusnya dapat diantisipasi justru menimbulkan kerugian ekonomi dan mengganggu citra Indonesia di mata dunia," ujar Totok yang turut menuntut pihak Pertamina agar bergerak cepat menuntaskan masalah antrean.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Varin Vaprilia Caroline

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X