INSIBERNEWS - Jagat maya kembali dihebohkan dengan rentetan skandal kelam dari lingkungan pendidikan.
Seorang mantan pimpinan pondok pesantren (ponpes) berinisial IM atau yang lebih akrab disapa 'Abah' di Desa Bunkate, Kabupaten Lombok Tengah, dilaporkan atas dugaan pencabulan terhadap belasan santriwatinya.
Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram, Joko Jumadi, membongkar bahwa pelaku melancarkan aksi bejatnya dengan pendekatan manipulatif berkedok agama.
"Modus terduga terlapor dalam melakukan pelecehan seksual itu dengan melakukan pendekatan terhadap korban, lalu ditawarkan untuk dijadikan istri kedua. Pekan kemarin memang ada 15 orang, tetapi ada satu orang lagi yang melaporkan juga menjadi korban, sehingga totalnya kini mencapai 16 orang," ungkap Joko saat membeberkan siasat pelaku di Mapolres Lombok Tengah, Selasa (29/9/2026).
Baca Juga: Pilu Keluarga Lihat Jenazah Penuh Lebam Kematian Mahasiswa, Poltekpel Aceh Berbuntut Panjang
Gelombang keberanian para korban yang mayoritas berstatus sebagai alumni ini rupanya dipicu oleh kemarahan setelah melihat sebuah video klarifikasi dari Abah yang dengan angkuh menyebut tuduhan tersebut sebagai kebohongan.
Lebih memprihatinkan lagi, kejahatan ini diduga tidak dilakukan seorang diri, melainkan turut menyeret seorang tenaga pengajar berinisial M yang kini juga berstatus sebagai terduga pelaku.
"Terlapor (M) merupakan pengajar di pondok pesantren tersebut. TKP peristiwa pelecehan seksual juga itu terjadi di dalam pondok pesantren. Para korban berani melakukan speak up setelah melihat video Abah yang arogan menepis semua kejadian tersebut," terang Joko merinci tabir gelap di balik tembok asrama tersebut.
Baca Juga: Pabrik Baterai Raksasa Karawang Beroperasi, Sinyal Kuat Harga Mobil Listrik Bakal Makin Terjangkau
Merespons eskalasi kasus yang kian meresahkan, Kepala Satreskrim Polresta Lombok Tengah, AKP Punguan Hutahaean, menegaskan bahwa perkara yang sebenarnya sudah masuk daftar aduan sejak Februari 2025 ini kembali menjadi atensi utama.
Penyelidikan sebelumnya sempat tersendat lantaran para korban memilih melakukan investigasi mandiri terlebih dahulu, ditambah lagi sejumlah saksi kunci dan alat bukti saat ini diketahui tengah berada di Mesir.
"Yang jelas, penanganan perkara ini menjadi prioritas utama kami, termasuk mengawal hak santri yang mungkin masih takut melapor. Jadi, sekarang baru diserahkan barang bukti maka kami akan proses cepat, dan melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi maupun terlapor," tegas Punguan memberikan jaminan perlindungan dan penegakan hukum.
Baca Juga: Dikritik Sibuk Bikin Konten Saat Evakuasi Virgo Transport 8, Penyelam Basarnas Beri Penjelasan
Kendala di lapangan sempat terjadi ketika aparat kepolisian menyambangi langsung Ponpes Abul Barokat Wannafahat tersebut, di mana pihak pengelola justru menunjukkan sikap tertutup saat dimintai keterangan.
Kini, penyidik membuka pintu komunikasi seluas-luasnya bagi masyarakat atau saksi lain yang memiliki informasi tambahan agar pusaran skandal kekerasan seksual ini dapat segera diseret ke meja hijau.***