INSIBERNEWS - Program bantuan hewan kurban Presiden Prabowo Subianto yang dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menuai perhatian publik.
Namun, Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Sugiat Santoso menegaskan bahwa kebijakan tersebut bukan sesuatu yang baru dalam praktik kenegaraan Indonesia.
Menurut Sugiat, penggunaan anggaran negara untuk kegiatan sosial kemasyarakatan oleh kepala negara merupakan hal yang lazim dan telah berlangsung sejak pemerintahan sebelumnya.
Baca Juga: Iran Siap Akhiri Perang Timur Tengah dan Desak AS Tunjukkan Itikad Perdamaian
“Ini hal yang biasa dalam persoalan kenegaraan. Presiden sebagai kepala negara memang memiliki anggaran yang diperuntukkan membantu masyarakat,” ujar Sugiat di Jakarta, Rabu.
Ia menilai polemik terkait sumber anggaran kurban presiden tidak perlu dibesar-besarkan, sebab program bantuan serupa telah berjalan lintas pemerintahan, termasuk sebelum era Presiden Prabowo Subianto.
Sugiat menjelaskan, bantuan hewan kurban dari Presiden memiliki dampak sosial yang besar, terutama saat momentum Hari Raya Idul Adha. Dengan jumlah distribusi yang mencapai ribuan penerima, masyarakat di berbagai daerah dinilai memperoleh manfaat langsung dari program tersebut.
Baca Juga: Picu Polemik, MUI Tegaskan Kurban Prabowo Pakai APBN Sah Secara Syariat, Ini Alasannya
Lebih lanjut, Sugiat menekankan bahwa bantuan presiden kepada masyarakat tidak hanya terbatas pada hewan kurban. Selama ini, anggaran bantuan presiden juga diarahkan untuk mendukung sektor pendidikan, layanan kesehatan, hingga pembangunan fasilitas publik.
“Bukan hanya kurban. Bantuan presiden juga banyak untuk pendidikan, kesehatan, sampai fasilitas publik. Jadi, jangan melihat ini seolah sesuatu yang baru,” kata dia.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyalurkan sebanyak 1.098 ekor sapi kurban untuk Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah.
Baca Juga: Maruti Suzuki Siap Luncurkan Mobil Etanol 100 Persen, Fronx dan Wagon R Jadi Kandidat
Seluruh sapi tersebut berasal dari peternak lokal dan terdiri dari sapi premium dengan bobot mulai lebih dari 800 kilogram hingga mencapai 1,3 ton.
Wakil Menteri Sekretaris Negara Juri Ardiantoro mengungkapkan bahwa sapi kurban yang disalurkan terdiri dari berbagai jenis unggulan, seperti Simmental, Limousin, Peranakan Ongole, Brahman, Angus, Sapi Bali, FH, Belgian Blue, hingga Charolais.