INSIBERNEWS - konflik panas di Timur Tengah kembali memuncak setelah Iran mengklaim meluncurkan serangan besar terhadap sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat.
Pada Minggu, 15 Maret, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan bahwa rudal dan drone mereka menghantam tiga fasilitas militer AS.
Berdasarkan laporan kantor berita Fars yang dikutip Anadolu, salah satu target utama adalah pangkalan udara Al-Harir di Erbil, Irak.
Selain Al-Harir, dua instalasi militer AS lainnya juga dilaporkan menjadi sasaran, yaitu pangkalan Ali Al Salem dan Camp Arifjan.
Baca Juga: Rocky Gerung dan Felix Siauw Kompak Soroti Teror terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus
IRGC menyatakan bahwa serangan ini dilakukan sebagai balasan atas serangan sebelumnya yang menewaskan sejumlah pekerja di kawasan industri Iran.
Di tengah eskalasi konflik, IRGC juga mengeluarkan pernyataan keras yang secara langsung menyinggung Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Dalam pernyataannya, mereka menyampaikan ancaman terbuka terhadap Netanyahu.
"Jika dia masih hidup, kami akan terus mengejar dan membunuhnya dengan kekuatan penuh," bunyi pernyataan tersebut.
Baca Juga: Aktivis HAM Andrie Yunus Disiram Air Keras di Jakarta, Kapolri Beri Atensi Khusus
Pernyataan tersebut mempertegas meningkatnya ketegangan antara Iran dan Israel yang dalam beberapa waktu terakhir terlibat dalam aksi saling serang, baik secara langsung maupun melalui sekutu di kawasan.
Di tengah memanasnya konflik, media sosial sempat diramaikan dengan rumor yang menyebut Benjamin Netanyahu tewas dalam serangan balasan Iran.
Namun kantor Perdana Menteri Israel segera memberikan klarifikasi dan membantah kabar tersebut. Pemerintah Israel menegaskan bahwa informasi tersebut merupakan berita palsu.
Pihak resmi menyatakan bahwa Netanyahu dalam kondisi aman dan tetap menjalankan tugasnya sebagai Perdana Menteri Israel.