news

Kejar 8 Persen Pertumbuhan Ekonomi, Wadirut MIND ID Jelaskan Potensi Tambang hingga Sektor Lain yang Perlu Dioptimalkan

Rabu, 11 Februari 2026 | 18:41 WIB
Kejar 8 Persen Pertumbuhan Ekonomi, Wadirut MIND ID Jelaskan Potensi Tambang hingga Sektor Lain yang Perlu Dioptimalkan (Istimewa)

INSIBERNEWS - Dany Amrul Ichdan selaku Wakil Direktur Utama (Wadirut) Mining Industry Indonesia (MIND ID), mengatakan Indonesia harus keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah.

Dany menuturkan sudah saatnya RI “naik kelas” dengan mengejar pertumbuhan 8%. Keunggulan komparatif yang dimiliki harus dioptimalkan untuk bisa memberi kontribusi pada Produk Domestik Bruto (PDB) yang lebih besar lagi.

Disampaikan dalam acara Studium Generale dengan topik “Ekonomi Inklusif untuk Indonesia Naik Kelas” di Aula Barat ITB Bandung, yang dihadiri Menko Bidang Pemberdayaan Masayarakat, Muhaimin Iskandar dan Rektor ITB, Tatacipta Dirgantara, pada Rabu, 11 Februari 2026.

Baca Juga: Jangkau 34 Provinsi! Pemerintah Buka Program Mudik Gratis Lebaran 2026 yang Targetkan Puluhan Ribu Pemudik

Dalam pernyataannya, Dany menilai selama bertahun-tahun ekonomi Indonesia cenderung terjebak di kisaran pertumbuhan 5% karena struktur ekonomi yang masih bertumpu pada komoditas mentah dan nilai tambah yang terbatas.

"Selama lebih dari satu dekade, ekonomi Indonesia seolah nyaman di angka 5%. Padahal, dengan modal yang kita miliki, Indonesia seharusnya mampu melompat ke tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi," kata Dany.

Strategi pembangunan berkualitas ini diuraikan juga dalam bukunya berjudul ‘Indonesia Naik Kelas’ yang diluncurkan akhir tahun 2025.

Baca Juga: Siap Mudik Hemat! Pemerintah Bakal Diskon Tarif Kereta 30 Persen hingga Pesawat 18 Persen saat Lebaran

Cadangan Mineral Jadi Peluang Besar

“Indonesia sesungguhnya memiliki keunggulan. Cadangan mineral strategis Indonesia menempati peringkat teratas dunia, mulai dari timah, nikel, emas, bauksit hingga batubara, dengan usia cadangan puluhan tahun,” terang Dany.

Kendati demikian, Dani menilai potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal.

Kontribusi penerimaan pajak dan royalti terhadap PDB Indonesia masih berada di kisaran 9%-10%, jauh di bawah praktik negara-negara maju yang sudah mencapai 30%-40%.

Baca Juga: Program Cek Kesehatan Gratis Jadi Strategi Preventif Pemerintah Tekan Penyakit Kronis dan Perkuat BPJS Kesehatan

Kondisi ini mencerminkan masih dominannya ekspor bahan mentah dan lemahnya hilirisasi industri.

"Angka penerimaan negara yang rendah menunjukkan bahwa kita masih menjual bahan mentah. Nilai tambah terbesar justru dinikmati di luar negeri," ujar Dany.

Halaman:

Tags

Terkini