news

Bahan Peledak Dibeli Online, Polisi Ungkap Motif dan Latar Belakang ABH dalam Ledakan SMAN 72 Jakarta

Jumat, 21 November 2025 | 13:08 WIB
Polisi ungkap kondisi ABH dalam insiden ledakan SMAN 72 Kelapa Gading. (Tangkapan layar YouTube Polda Metro Jaya)

INSIBERNEWS - Polisi kembali membeberkan temuan terbaru terkait kasus ledakan di SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Anak berhadapan dengan hukum (ABH) yang menjadi terduga pelaku diketahui membeli bahan peledak secara daring, tanpa menimbulkan kecurigaan dari keluarga maupun lingkungan sekitarnya.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto mengatakan bahan-bahan tersebut diterima keluarga lewat paket dan diakui oleh ABH sebagai kebutuhan kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Penjelasan itu membuat orang tua sama sekali tidak mencurigai isi maupun tujuan pembelian bahan tersebut.

Baca Juga: Shin Min Ah Bantah Isu Hamil Duluan Usai Umumkan Menikah dengan Kim Woo Bin

“Kalau barang-barang paket yang diterima itu, itu kan untuk ekstrakurikuler sekolah. Jadi tidak ada kecurigaan dari keluarga juga,” ujar Budi, Jumat (21/11/2025).

“Iya seperti itu, beli online dan dikirim paket. Karena orang tuanya yang menerima,” lanjutnya.

Selain itu, ABH berdalih bahwa laptopnya sedang rusak sehingga orang tua tidak dapat memantau aktivitas daring yang dilakukannya. Kondisi tersebut membuat ruang geraknya lebih luas tanpa pengawasan berarti.

Baca Juga: Darurat Tata Kelola Tambang, JATAM Ungkap Praktik Tumpang Tindih Izin Sejumlah Perusahaan Nikel di Halmahera

Menurut Budi, keluarga menggambarkan ABH sebagai anak yang pendiam dan tidak banyak berinteraksi, baik di rumah maupun di sekolah. Sifat itulah yang membuat ledakan yang terjadi terasa mengejutkan bagi keluarga.

“Ya itu kaget, nggak menyangka kan,” tambahnya.

Sementara itu, Mabes Polri menyampaikan temuan lain yang memperkuat dugaan latar belakang tindakan nekat tersebut. Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko mengungkapkan, pelaku mengalami perundungan atau bullying sebelum insiden terjadi. Meski tidak terpapar jaringan terorisme, pengalaman tersebut membuatnya rentan terhadap konten negatif.

Baca Juga: KAI Commuter Respons Usulan KRL 24 Jam, Tegaskan Waktu Malam Penting untuk Perawatan Armada

“Pelaku memang tidak terhubung ke jaringan terorisme, namun perundungan yang dialami membuatnya mudah terjerumus,” jelas Trunoyudo.

Ia menambahkan bahwa anak dan pelajar yang mengalami perundungan cenderung lebih mudah terpengaruh propaganda radikal. Kelompok ekstremis, menurutnya, kerap memanfaatkan media sosial hingga game online untuk menjaring korban secara perlahan.

Trunoyudo menegaskan bahwa fenomena ini menjadi peringatan bagi orang tua dan sekolah untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak. Selain itu, pengawasan terhadap aktivitas internet juga dinilai penting guna mencegah insiden serupa.***

Tags

Terkini