INSIBERNEWS - Setelah hampir dua dekade tak mengalami perubahan, tarif Transjakarta akhirnya akan naik dari Rp3.500 menjadi Rp5.000. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menilai langkah ini sudah mendesak dilakukan karena beban subsidi yang semakin besar dari tahun ke tahun.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta, Syafrin Liputo, menjelaskan bahwa kenaikan tarif ini tak bisa dihindari.
Menurutnya, tingkat cost recovery atau kemampuan Transjakarta menutupi biaya operasional dari pendapatannya terus menurun secara signifikan.
Baca Juga: Kemenhub Gaspol Wujudkan Jalan Bebas Truk ODOL, Target Tercapai di 2027
“Sejak 2005, tarif Transjakarta belum pernah naik sama sekali. Dari hasil kajian kami, cost recovery-nya dulu masih sekitar 34–35 persen, tapi sekarang tinggal di angka 14 persen,” ujar Syafrin kepada wartawan, Jumat, 24 Oktober 2025.
Penurunan ini membuat Pemprov DKI harus menggelontorkan subsidi yang jauh lebih besar setiap tahunnya agar layanan bus Transjakarta tetap berjalan. Padahal, di sisi lain, biaya operasional terus meningkat seiring dengan harga bahan bakar, perawatan armada, dan peningkatan layanan publik.
Syafrin menjelaskan, proses kenaikan tarif tak bisa dilakukan begitu saja. Semua harus mengikuti mekanisme hukum yang berlaku sesuai Peraturan Daerah (Perda) Nomor 10 Tahun 2014 tentang penyelenggaraan transportasi di DKI Jakarta.
“Kalau memang ada penyesuaian tarif, gubernur akan bersurat ke DPRD DKI Jakarta untuk meminta persetujuan. Setelah dibahas dan disetujui dewan, baru tarif baru bisa ditetapkan,” jelasnya.
Meski begitu, hingga kini Gubernur DKI Jakarta belum menerbitkan keputusan resmi terkait kenaikan tarif tersebut. Dishub DKI menyebut proses pembahasan dengan DPRD masih berjalan, termasuk menimbang dampaknya terhadap daya beli masyarakat.
Baca Juga: Apple Dikabarkan Langsung Lompat ke iPhone 20 pada 2027, Bakal Jadi Edisi Spesial 20 Tahun iPhone
Pemerintah sendiri berupaya mencari titik tengah antara keberlanjutan layanan dan kemampuan masyarakat untuk membayar. Sebab, Transjakarta masih menjadi moda transportasi favorit warga ibu kota, dengan rata-rata penumpang mencapai lebih dari 800 ribu orang per hari.
Syafrin menegaskan, Pemprov DKI tetap berkomitmen menjaga agar Transjakarta tetap terjangkau bagi masyarakat menengah ke bawah, meskipun tarifnya akan naik.
“Kenaikan ini kita upayakan proporsional, tidak memberatkan masyarakat, tapi juga realistis agar sistem transportasi tetap sehat,” katanya.