INSIBERNEWS - Kunjungan Menteri Urusan Strategis Israel, Ron Dermer, ke Washington pada Senin (30/6/2025) menjadi sorotan internasional.
Ia datang di tengah tekanan besar dari Amerika Serikat untuk menyepakati gencatan senjata dengan Hamas serta membahas kemungkinan pertukaran tahanan yang masih tertahan di Jalur Gaza.
Baca Juga: Ronaldo Pilih Fokus Piala Dunia 2026, Tolak Main di Piala Dunia Antarklub
Dilaporkan oleh sejumlah media Israel seperti The Times of Israel, Dermer disebut hanya membawa mandat terbatas dari pemerintah Tel Aviv.
Fokus utamanya adalah mengupayakan gencatan senjata dalam jangka pendek, bukan penghentian permanen perang seperti yang menjadi tuntutan utama Hamas dalam proses negosiasi.
Baca Juga: Dinilai Tak Penuhi Aturan Pendaftaran, Komdigi Blokir eBay hingga KLM di Indonesia
Hamas sendiri masih bersikukuh dengan syarat bahwa perang harus benar-benar dihentikan sebelum ada kesepakatan pertukaran sandera. Kelompok tersebut juga mendorong agar mekanisme distribusi bantuan kemanusiaan dikembalikan seperti sebelumnya, sebuah usulan yang kini mendapat dukungan dari beberapa negara Arab yang terlibat sebagai mediator.
Baca Juga: Paiman Raharjo Bantah Keras Tudingan Cetak Ijazah Palsu Jokowi: Fitnah Keji!
Sementara itu, Haaretz melaporkan bahwa tim senior Presiden AS Donald Trump akan menemui Dermer secara langsung. Dalam pertemuan tersebut, mereka diperkirakan akan menegaskan bahwa Washington menginginkan Israel segera menghentikan ofensif militernya di Gaza dan memprioritaskan pengembalian para sandera.
Pemerintah AS juga dikabarkan menyampaikan bahwa ambisi Israel untuk “melenyapkan Hamas” kemungkinan besar harus ditangguhkan.
Fokus kini bergeser ke arah pencapaian stabilitas jangka panjang di kawasan Timur Tengah, terutama pasca gencatan senjata antara Israel dan Iran yang diumumkan Trump pekan lalu.
Baca Juga: Ledakan Populasi Lovebug: Serangga Romantis yang Bikin Warga Seoul Resah
Tak hanya dari luar, tekanan juga datang dari dalam negeri Israel sendiri. Menurut laporan Channel 12, militer Israel telah meminta pemerintah untuk segera menentukan arah baru dalam strategi perang. Ketidakjelasan misi yang berkepanjangan dianggap bisa memperburuk situasi keamanan dan diplomatik.