INSIBERNEWS - Pemerintah China sebelumnya diketahui sangat membatasi distribusi konten Korea di negaranya.
Hal ini pertama kali diberlakukan pada tahun 2017, setelah Korea Selatan mengadopsi sistem pertahanan rudal AS, THAAD (Terminal High Altitude Area Defense).
Membuat konten Korea di negara itu dibatasi secara ketat. Meski pemerintah tidak pernah secara resmi mengakui adanya larangan terkait konten Korea, namun setiap ekspor budaya Korea sulit mendapat persetujuan dari otoritas setempat.
Sehingga orang-orang ramai menilai bahwa China melakukan larangan banned terhadap gelombang budaya Korea atau Korean wave.
Namun, kini dengan perubahan dalam strategi diplomatik, China menyatakan keinginan untuk memperluas pertukaran budaya dengan Korea Selata, dan sepenuhnya akan melanjutkan kerja sama budaya paling cepat pada bulan Mei.
Pada tahun 2017, menurut KDB Future Strategy Research Institute, dikabarkan kerugian bagi industri terkait akibat larangan Korean wave di China adalah sebesar 22 triliun won.
Baca Juga: Pemerintah Targetkan BBM Subsidi Dihapus di 2027, Luhut: Bisa Hemat Miliaran Dolar!
Presiden China, Xi Jinping menyatakan dalam pertemuannya dengan Ketua Majelis Nasional Korea Selatan, bahwa pertukaran budaya adalah bagian berharga dari hubungan bilateral.
Keputusan ini menunjukkan bahwa China seperti tidak lagi menganggap Korean wave sebagai ancaman terhadap industri di China.