INSIBERNEWS - Nasib kurang beruntung nyaris menimpa Diandrea Fristi Esfandiari Zulkarnain, seorang mahasiswi berprestasi dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Mahasiswi semester tiga program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) ini mendadak viral di media sosial lantaran terancam putus kuliah akibat kesalahan pendataan status kesejahteraan atau desil.
Padahal, rekam jejak akademiknya sangat cemerlang, namun ia harus berjuang ekstra keras hanya untuk bisa mendaftar program beasiswa BeSMART.
Persoalan pelik ini bermula ketika mahasiswi yang akrab disapa Drea tersebut gagal lolos seleksi beasiswa pada semester pertama, padahal ia berhasil mengantongi Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna yakni 4,0.
Baca Juga: Guncangan 6,0 Magnitudo Kembali Landa NTT, Pria 56 Tahun Meninggal Syok Kena Serangan Jantung
Pantang menyerah, ia kembali mencoba peruntungannya di semester kedua berbekal IPK 3,95.
Namun, kendala utama justru muncul dari sistem pendaftaran yang mendadak mencatat status ekonominya berada di desil 6-10, sebuah kategori untuk keluarga mampu yang membuatnya secara otomatis terganjal persyaratan administrasi.
"Saya cek dulu di Cek Bansos karena ada postingannya Bu Meme suruh cek dulu, saya cek, desil saya 2, sesuai syarat. Cuma, di web BeSMART-nya ini tiba-tiba desilnya jadi 6-10, terus saya bingung harus gimana," ungkap Drea menceritakan keluh kesahnya saat ditemui secara langsung oleh Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji, pada Kamis (20/8/2026).
Usut punya usut, kekacauan sistem ini berakar dari kesalahan input data sensus ekonomi di tingkat akar rumput.
Berdasarkan pengakuan salah satu perangkat desa yang ikut mendampinginya, Drea rupanya keliru dicatat sebagai seorang karyawati yang sudah berpenghasilan, padahal ia masih berstatus aktif sebagai pelajar.
Setelah mengajukan sanggahan resmi melalui program Perlindungan Sosial (Perlinsos), barulah status kesejahteraannya dikembalikan ke desil 2 sesuai dengan fakta di lapangan.
Faktanya, kehidupan ekonomi keluarga Drea terbilang sangat pas-pasan dan jauh dari kata mewah. Sang ayah hanyalah seorang pengantar galon air isi ulang yang penghasilannya tidak menentu setiap harinya.
Demi menutupi Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang mencapai Rp4 juta, mahasiswi gigih ini bahkan harus meminjam dana dan mencari uang tambahan dengan menjajakan kerajinan tangan berupa gantungan kunci hasil karyanya sendiri.
"Untuk kelurahan, RT, RW, lihat kondisi real warga kita. Warga yang tidak mampu, ya sampaikan tidak mampu, enggak usah malu. Jadi jangan dinaik-naikan. Kalau memang desilnya 5 ke bawah, tulis 5 ke bawah supaya warga mendapatkan haknya," tegas Armuji yang menyoroti tajam kinerja Badan Pusat Statistik (BPS) dalam melakukan pendataan warganya.
Sebagai tindak lanjut, Armuji berkomitmen akan mendatangi kantor BPS untuk mencari solusi permanen atas persoalan ketidaksesuaian desil yang kerap merugikan masyarakat kecil.
Ia berharap kasus yang menimpa Drea menjadi pelajaran penting agar penyaluran bantuan sosial maupun pendidikan ke depannya bisa benar-benar tepat sasaran.
Sementara itu, setelah mengurus perbaikan data ke Dinas Sosial, Drea bersyukur kini dirinya sudah bisa melanjutkan tahapan pendaftaran beasiswanya.***
Artikel Terkait
Motor Tertemper KRL di Jakbar, Pelajar SMA Tewas di Lokasi Kejadian
Akui Mabok, Pria Bugil Aniaya Pengendara di Lenteng Agung Ternyata Mahasiswa
Kian Memanas, Iran Peringatkan Bakal Beri Balasan Sepadan Jika Trump Nekat Kirim Rudal Nuklir
Guncangan 6,0 Magnitudo Kembali Landa NTT, Pria 56 Tahun Meninggal Syok Kena Serangan Jantung