INSIBERNEWS - Sebuah rekaman amatir yang memperlihatkan pengiriman 280 kilogram daging ayam segar untuk pasokan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mendadak viral dan memicu keresahan publik.
Pasalnya, ratusan kilogram bahan baku utama untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) tersebut dikirim secara sembarangan hanya menggunakan mobil bak terbuka yang sangat rawan terkontaminasi polusi jalanan.
Keteledoran fatal ini langsung memantik reaksi keras dari praktisi kuliner profesional, Hendry Kumink.
Melalui akun Instagram pribadinya, chef yang aktif memantau jalannya program pemenuhan gizi nasional ini mengkritik habis-habisan standar operasional yang diterapkan, mengingat pengiriman bahan makanan dalam jumlah masif membutuhkan penanganan ekstra ketat agar terhindar dari ancaman kesehatan.
Baca Juga: Bertemu Bos FIFA, Prabowo Janji Bangun Fasilitas Sepak Bola di Daerah dan Libatkan Klub Profesional
"Dengan adanya VT itu seperti sedang membongkar kebobrokan suatu SPPG. Itu kalau ketahuan SPPG mana, habis itu," tegas Chef Kumink menyoroti kelalaian pihak pengelola yang membiarkan pelanggaran keamanan pangan tersebut terjadi.
Dalam analisisnya, sang pakar kuliner menilai dalih "hari pertama" atau ketidaktahuan pihak penyuplai tidak bisa dibenarkan sama sekali.
Berdasarkan regulasi ketat Badan Gizi Nasional (BGN), pihak SPPG justru mengemban tanggung jawab penuh untuk mengedukasi rekanan mereka bahwa seluruh sumber protein hewani wajib dikirim dalam kondisi beku atau minimal setengah beku demi menjaga kesegarannya.
"Harusnya beku, jadi dimasukin boks styrofoam atau boks yang ada es batunya dan mobilnya yang tertutup. Iya itu ditutup terpal sih tapi yaudah dan sama abangnya ditaruh di lantai," sesalnya melihat kondisi pengemasan yang memprihatinkan karena hanya dibungkus kantong plastik biasa.
Baca Juga: Perkuat Postur Pertahanan, Presiden Prabowo Resmi Lantik 204 Satuan Baru TNI di Puncak HUT ke-81
Kekhawatiran Chef Kumink kian bertambah saat menyadari rentang waktu perjalanan dalam video tersebut yang memakan waktu berjam-jam dari siang hingga malam, bahkan sempat diguyur hujan.
Kondisi suhu yang tidak stabil serta sanitasi buruk semacam itu merupakan tempat perkembangbiakan paling ideal bagi bakteri mematikan seperti E.coli, yang siap mengancam pencernaan anak-anak penerima manfaat.
"Itu bom waktu, bisa terjadi nanti. Gimana caranya tidak meledak? Ya harusnya makanan itu dijaga di rantai dingin di bawah 5 derajat Celcius," pungkasnya memberikan peringatan keras, sementara hingga kini lokasi pasti SPPG dalam video amatir tersebut masih menjadi tanda tanya.***
Artikel Terkait
Kepala Rutan Depok Bicara soal Video Viral Dugaan Narkoba, 2 Petugas Diperiksa
Pengusaha Boy Thohir Pulangkan Rp12,6 Triliun dari Australia ke Indonesia
Pemerintah Larang Konser Israel Houghton di Jakarta, Singgung Isu Israel-Palestina
Bertemu Bos FIFA, Prabowo Janji Bangun Fasilitas Sepak Bola di Daerah dan Libatkan Klub Profesional