INSIBERNEWS - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memantik kobaran ketegangan geopolitik global lewat manuver terbarunya.
Melalui unggahan di platform Truth Social pada Selasa (18/8/2026), Trump secara mengejutkan memamerkan sebuah peta yang melabeli Selat Hormuz sebagai teritori baru Amerika Serikat.
Manuver berani ini semakin mempertegas ancaman nyata AS untuk mengambil alih kedaulatan mutlak atas salah satu jalur perairan paling strategis di dunia tersebut.
Merespons klaim sepihak itu, pemerintah Iran langsung bereaksi keras menolak gertakan Washington.
Baca Juga: Viral Aksi Kocak Mahasiswa BEM UI 'Roasting' Spanduk Polwan di Thamrin Pakai Nada Lagu 'Rollerblade'
Melansir laporan Channel News Asia, Rabu (19/8/2026), wacana aneksasi yang pertama kali dilempar Trump pada Jumat lalu itu kini tak lagi dianggap lelucon oleh Teheran.
Pasalnya, sang presiden kembali menegaskan ambisinya saat berpidato di Gedung Putih, mengindikasikan bahwa penguasaan selat tersebut adalah ide yang patut direalisasikan sesegera mungkin.
Gaya diplomasi gertak sambal ini bukanlah barang baru dalam rekam jejak kepemimpinan Donald Trump.
Sejak kembali menguasai Ruang Oval pada 2025, ia kerap melempar wacana ekspansionis yang memicu polemik, mulai dari rencana mencaplok Kanada sebagai negara bagian ke-51, niat menguasai Greenland, hingga isyarat pengambilalihan Jalur Gaza. Kendati selalu memicu kegaduhan diplomatik, nyatanya tidak ada satu pun dari deretan ancaman tersebut yang terbukti dieksekusi di lapangan.
Imbas dari ketegangan panjang ini, Selat Hormuz yang normalnya beroperasi sebagai jalur laut internasional bebas kini berstatus tertutup total pascameletusnya perang pada 28 Februari lalu.
Baca Juga: Ardhito Pramono Gugat Sony Music soal Royalti, PN Jakarta Pusat Pastikan Perkara Terdaftar
Penutupan akses jalur pelayaran yang menguasai seperlima urat nadi pasokan minyak dunia ini merupakan aksi balasan mematikan dari Iran terhadap eskalasi militer AS dan Israel.
Kondisi perairan tersebut kini lumpuh dan membuat distribusi energi global berada di ujung tanduk.
"Kami hanya akan membuka kembali akses selat strategis tersebut jika Washington menyetujui deretan syarat berat kami, yaitu mencabut sanksi minyak dan blokade pelabuhan, membebaskan aset Teheran yang dibekukan, serta membayar kompensasi penuh atas kerusakan perang."
Demikian ketegasan sikap pemerintah Iran dalam mempertahankan kedaulatannya dari tekanan Amerika Serikat.***
Artikel Terkait
Kasus TPPU Febrie Adriansyah Masuk Babak Praperadilan, Kuasa Hukum Siapkan Perlawanan
Akses ke Bundaran HI Dibatasi Polisi, Massa Demo Mahasiswa Bertahan di UOB Plaza
Penyebab Kematian Sutrimo Masih Misterius, Dokter Forensik Tunggu Hasil Laboratorium
Diam-Diam Sah! Dikta dan Rachel Florencia Resmi Menikah Usai Setahun Pacaran
Viral Aksi Kocak Mahasiswa BEM UI 'Roasting' Spanduk Polwan di Thamrin Pakai Nada Lagu 'Rollerblade'