INSIBERNEWS — Liburan ke Bali ternyata menyisakan cerita menarik untuk Kang Seulgi, salah satu anggota grup Kpop populer Red Velvet, dan sahabatnya, Sujin.
Dalam vlog terbaru yang diunggahnya, Seulgi memperlihatkan pengalaman kocak mereka saat berbelanja di sebuah pasar tradisional Pulau Dewata.
Bagi yang belum mengenalnya, Kang Seulgi merupakan penyanyi sekaligus penari asal Korea Selatan yang lahir pada 10 Februari 1994. Ia debut bersama Red Velvet di bawah naungan SM Entertainment pada 2014.
Baca Juga: WhatsApp Rilis Fitur Terjemahan Pesan, Bikin Chat Antarbahasa Jadi Makin Mudah
Dengan suara khas dan kemampuan menari yang memukau, Seulgi berhasil menjadi salah satu idol paling berpengaruh di industri hiburan Korea.
Tak heran, aktivitas sehari-harinya, termasuk saat berlibur ke Bali, selalu berhasil menarik perhatian penggemar di berbagai belahan dunia.
Dalam video tersebut, Seulgi dan Sujin awalnya tertarik pada sebuah kaos sederhana bertuliskan “I Bali”.
Baca Juga: 600 Ribu Penerima Bansos Diduga Palsukan Data, Kemensos Siapkan Revolusi Penyaluran
Namun, mereka langsung dibuat kaget ketika penjual membuka harga awal di angka Rp600.000. Sujin spontan menolak sambil berkomentar, “Mahal banget. Kayaknya kita nggak akan beli deh.”
Penjual kemudian menurunkan harga menjadi Rp500.000, lalu Rp400.000. Namun, Sujin tetap tidak goyah.
Ia bahkan sempat melontarkan candaan, “Bukannya di Korea malah lebih murah ya?” sebelum menawar harga Rp100.000. Tawarannya itu langsung ditolak mentah-mentah oleh penjual.
Baca Juga: Tragis! Pelaku Pembacokan Satu Keluarga Mantan Istri Ditemukan Tewas di Parit Hutan Pacitan
Setelah melalui proses tawar-menawar cukup panjang, akhirnya kesepakatan tercapai di harga Rp250.000.
Meski sudah jauh lebih murah dari harga awal, Seulgi tetap berkomentar polos, “Sebenarnya ini cuma kaos ‘I Bali’ yang memang cuma bisa dibeli di Bali.”
Meski demikian, mereka tetap membelinya dengan alasan sebagai kenang-kenangan dari perjalanan liburan.
Baca Juga: Sekuriti Bank di Cikarang Ditemukan Tewas, Polisi Dalami Dugaan Bunuh Diri
Momen tersebut langsung menjadi bahan tawa bagi para penggemar. Banyak yang mengaku relate karena pernah mengalami situasi serupa saat berbelanja oleh-oleh di Bali.
Adegan tawar-menawar ini bahkan memunculkan komentar kocak dari warganet, yang merasa perjuangan belanja di pasar tradisional memang selalu penuh drama.
Namun, kejadian yang dialami Seulgi dan Sujin sekaligus menyoroti fenomena lama di Bali: pedagang yang kerap memberikan harga jauh lebih mahal kepada turis, baik domestik maupun mancanegara.
Baca Juga: Polisi Buru Pria Misterius Pembuang Bayi di Depan Panti Asuhan Jakbar
Harga awal yang ditawarkan sering kali tidak masuk akal, bahkan bisa beberapa kali lipat lebih tinggi dibandingkan harga untuk warga lokal.
Praktik ini kerap menuai kritik dari wisatawan dan pemerhati pariwisata. Alih-alih menampilkan keramahan khas Bali, pedagang yang memasang “harga turis” justru dapat menimbulkan kesan buruk.
Wisatawan yang merasa dirugikan mungkin akan membawa pulang pengalaman negatif, meskipun Bali sebenarnya dikenal dengan budaya ramah dan keindahan alamnya.
Baca Juga: Cukai Rokok 2026 Batal Naik, Menkeu Purbaya Siapkan Strategi Alternatif
Pengamat pariwisata menyebutkan bahwa transparansi harga merupakan salah satu kunci menjaga reputasi Bali sebagai destinasi kelas dunia.
Jika praktik harga turis dibiarkan, ada risiko wisatawan akan merasa enggan kembali atau membagikan pengalaman buruk mereka ke orang lain.
Kejadian Seulgi ini pun menjadi contoh nyata bagaimana pengalaman belanja bisa meninggalkan kesan lucu sekaligus kritis terhadap perilaku pedagang.
Baca Juga: Ungkapan Santai Kimberly Ryder Soal Pertemuan Baim Wong dan Paula Verhoeven Dalam Acara Yang Sama
Meski demikian, momen sederhana ini juga menunjukkan sisi natural seorang idol besar seperti Seulgi.
Ia tak segan berbagi pengalaman sehari-hari yang membumi, bahkan ketika harus menghadapi harga kaos yang “fantastis”.