INSIBERNEWS — Aktris sekaligus produser teater ternama Happy Salma kembali menunjukkan konsistensinya dalam dunia seni panggung.
Melalui karya monumental Bunga Penutup Abad, ia kembali hadir sebagai pemeran utama dengan membawakan karakter legendaris Nyai Ontosoroh.
Sementara itu, aktor berbakat Reza Rahadian turut serta dalam produksi ini dengan memerankan tokoh Minke, seorang pemuda yang menjadi simbol kebangkitan kesadaran bangsa dalam karya sastra besar Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa.
Baca Juga: Viral di Lampung Timur, Motor Gagal Dicuri Malah Nyangkut di Atas Pagar Beton
Kehadiran Reza menandai reuni artistik keduanya bersama Happy Salma setelah sebelumnya pernah tampil dalam produksi serupa yang menuai banyak apresiasi.
Pertunjukan Bunga Penutup Abad 2025 ini digelar sebagai bentuk penghormatan pada Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar Indonesia yang karyanya telah menjadi warisan intelektual dan inspirasi bagi generasi bangsa.
Tahun ini menjadi momen istimewa karena bertepatan dengan 100 tahun kelahiran Pramoedya.
Baca Juga: Buah dan Sayur yang Bikin Kulit Sehat dan Glowing, Yuk Simak!
Happy Salma, yang dikenal sebagai pendiri Titimangsa Foundation, mengungkapkan bahwa pementasan kali ini dikemas dengan pendekatan berbeda.
Ia ingin menghadirkan nuansa yang tidak hanya memukau secara visual, tetapi juga menghidupkan kembali semangat perjuangan, cinta, dan pemikiran kritis yang terkandung dalam karya Pramoedya.
Reza Rahadian, aktor yang kerap disebut sebagai salah satu ikon perfilman Indonesia, menegaskan bahwa perannya sebagai Minke bukan sekadar akting.
Baca Juga: DPR Dukung Langkah Prabowo Tertibkan 1.063 Tambang Ilegal, ESDM Bakal Dipanggil
Ia merasa tokoh Minke membawa beban moral sekaligus harapan untuk mengingatkan publik akan pentingnya literasi, sejarah, dan perlawanan terhadap ketidakadilan.
Pementasan ini tidak hanya mengandalkan kekuatan akting, tetapi juga menghadirkan sentuhan artistik modern.
Perpaduan tata panggung, pencahayaan, musik, serta kostum dirancang untuk menciptakan pengalaman teater yang lebih imersif bagi penonton.
Baca Juga: RAPBN 2026: Pemerintah Bidik Pendapatan Rp3.147 Triliun, Pajak Jadi Andalan Utama
Kisah Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa yang diangkat dalam Bunga Penutup Abad menyajikan refleksi mendalam tentang perjuangan melawan kolonialisme, kesetaraan, serta keberanian perempuan.
Karakter Nyai Ontosoroh yang diperankan Happy Salma kembali menjadi pusat perhatian karena dianggap relevan dengan isu-isu perempuan masa kini.
Pementasan ini akan berlangsung di Ciputra Artpreneur, Jakarta, pada tanggal 29, 30, dan 31 Agustus 2025 pukul 20.00 WIB.
Baca Juga: Meriahkan HUT ke-80 RI, LRT Jabodebek Berlakukan Tarif Flat Rp80 untuk Semua Perjalanan
Kehadiran acara ini diharapkan tidak hanya menarik pecinta teater, tetapi juga masyarakat luas yang ingin merasakan kembali keagungan sastra Indonesia dalam format pertunjukan seni.
Bagi Happy Salma, karya ini adalah bentuk dedikasi yang terus ia jalani untuk memperkenalkan sastra Indonesia melalui medium seni pertunjukan.
Ia percaya bahwa panggung teater adalah jembatan untuk membawa karya sastra ke ruang yang lebih dekat dengan publik modern.
Baca Juga: Tren Lampu Bi-LED di Mobil Kian Hits, Tapi Banyak Pengendara Ngaku Terganggu Silau
Reza Rahadian pun menyampaikan harapannya agar Bunga Penutup Abad dapat menjadi pengingat generasi muda akan pentingnya menghargai sejarah dan karya-karya besar bangsa sendiri.
Menurutnya, sastra Pramoedya bukan hanya cerita masa lalu, tetapi juga cermin masa kini dan masa depan.
Kolaborasi keduanya di atas panggung diperkirakan akan menjadi daya tarik utama, mengingat chemistry yang sudah terbangun dalam pementasan sebelumnya.
Baca Juga: Transjakarta Atur Ulang Rute saat Pesta 80 Tahun RI di Monas, Catat Jalur yang Terdampak!
Publik pun menantikan bagaimana Happy Salma dan Reza Rahadian akan kembali menghidupkan karakter ikonik tersebut dengan interpretasi yang segar.
Dengan semangat memperingati seratus tahun Pramoedya, Bunga Penutup Abad 2025 diharapkan menjadi lebih dari sekadar pertunjukan.
Ia hadir sebagai ruang perenungan, perayaan, sekaligus pengingat bahwa seni dan sastra adalah bagian penting dari identitas bangsa.
Baca Juga: PK Kedua Jessica Kumala Wongso Ditolak, Mahkamah Agung Tegaskan Tetap Bersalah