entertainment

Skandal Plagiat! Webtoon Windbreaker Resmi Tamat Usai Tracing Terbongkar

Minggu, 13 Juli 2025 | 15:34 WIB
Terungkap lakukan tracing, webtoon Windbreaker gulung tikar. (Naver)



INSIBERNEWS – Salah satu serial Webtoon paling populer di platform Naver, Windbreaker, resmi dihentikan setelah sang kreator, Jo Yongseok, mengakui telah melakukan plagiarisme visual.

Dalam episode ke-177 yang tayang pada 11 Juli 2025, Jo mengumumkan keputusan berat tersebut sekaligus menyampaikan permintaan maaf kepada para pembaca setia yang telah mengikuti kisah ini selama bertahun-tahun.

Kontroversi bermula saat komunitas pembaca mendapati adanya beberapa panel dalam Windbreaker yang memiliki kemiripan mencolok dengan adegan dalam anime dan manga terkenal asal Jepang, Tokyo Ghoul.

Baca Juga: Di Balik Cangkangnya, Kura-Kura Ternyata Punya Suasana Hati Seperti Manusia

Setelah dilakukan pengecekan oleh pembaca dan netizen, ditemukan bahwa elemen-elemen visual seperti sudut kamera, ekspresi karakter, hingga posisi tubuh dalam panel Windbreaker hampir identik dengan scene ikonik dalam Tokyo Ghoul karya Sui Ishida.

Tuduhan ini pun berkembang cepat di media sosial, memicu perdebatan sengit di kalangan pembaca dan komunitas seni digital.

Jo Yongseok akhirnya angkat bicara. Ia mengaku telah menggunakan beberapa referensi visual yang ternyata memiliki kemiripan signifikan dengan karya lain.

Baca Juga: Berkat Pinjaman BRI, Supplier Ikan Ini Berhasil Kembangkan Usaha hingga Jadi Pemasok Program MBG

Ia menyatakan bahwa tekanan pekerjaan dan tenggat waktu yang ketat selama bertahun-tahun membuatnya terburu-buru dalam proses kreatif.

"Beberapa materi referensi yang saya pakai ternyata diekspresikan dengan cara yang sangat mirip atau hampir identik dengan gambar dari karya lain. Ini jelas kesalahan saya. Saya merasa sangat bersalah dan meminta maaf kepada semua pembaca," tulis Jo dalam pernyataannya.


Apa Itu Tracing dalam Dunia Ilustrasi?

Tracing adalah praktik menyalin gambar atau bagian dari gambar lain baik dari foto, karya seniman lain, atau tangkapan layar anime/manga.

Baca Juga: Fenomena Musik Horeg Picu Polemik, Puluhan Ponpes di Pasuruan Fatwakan Haram

Kemudian menggunakannya sebagai dasar dari karya baru dengan sedikit perubahan, biasanya tanpa izin.

Meskipun tracing kadang digunakan dalam proses belajar menggambar atau latihan anatomi, praktik ini dianggap tidak etis jika digunakan dalam karya profesional dan komersial tanpa transparansi atau atribusi.

Bahkan, dalam banyak kasus, tracing dapat melanggar hak cipta dan mengurangi kredibilitas serta integritas sang seniman.

Baca Juga: Gaji Sentuh Milyaran Per Episode, Aktor Korea Mulai Ditinggal OTT?

Windbreaker: Dari Webtoon Aksi Favorit hingga Skandal

Sebelum terkena skandal, Windbreaker dikenal sebagai salah satu serial paling sukses di genre aksi dan olahraga. Cerita mengikuti Jay, siswa SMA pendiam yang ternyata jenius dalam balap sepeda.

Serial ini terkenal karena ilustrasi aksi yang dinamis, penggambaran emosi yang tajam, serta karakter-karakter dengan latar belakang kompleks.

Windbreaker telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan memiliki jutaan pembaca setia di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Baca Juga: Siap Jadi Tren Fashion! Jennie BLACKPINK Tampil dengan Sepatu 'Kaki Telanjang' yang Unik

Selain itu, webtoon ini juga sempat diadaptasi ke dalam berbagai proyek merchandise, animasi pendek, hingga kolaborasi dengan brand olahraga dan sepeda.

Banyak penggemar yang memuji Windbreaker karena mampu memadukan tema persahabatan, semangat berkompetisi, dan kritik sosial dalam satu narasi yang menarik.

Sayangnya, reputasi tersebut kini tercoreng karena temuan plagiarisme tersebut.

Baca Juga: Respon El Rumi Terkait Bullying yang Dialami Adik Perempuannya: No Comment, Biar Kakak Al dan Ayah yang Urus

Tokyo Ghoul: Karya yang Dijiplak

Tokyo Ghoul, manga dan anime yang menjadi bahan rujukan tracing, merupakan karya Sui Ishida yang pertama kali diterbitkan pada 2011.

Serial ini bercerita tentang Kaneki Ken, seorang mahasiswa yang berubah menjadi makhluk setengah-ghoul setelah transplantasi organ dari seorang ghoul misterius.

Dengan gaya visual yang gelap, penuh kontras dan simbolisme, Tokyo Ghoul dikenal memiliki estetika kuat yang mudah dikenali, dan telah menjadi inspirasi banyak kreator di seluruh dunia.

Baca Juga: Laporan Kasus ODGJ Meningkat di Bekasi, Relawan Sosial Bergerak Aktif Siang dan Malam

Fakta bahwa Windbreaker mengambil elemen visual dari karya seikonik Tokyo Ghoul memperbesar kekecewaan di kalangan fans dan memperkuat tuduhan bahwa ini bukan sekadar penggunaan referensi biasa.

Tokyo Ghoul, manga dan anime yang menjadi bahan rujukan tracing, merupakan karya Sui Ishida yang pertama kali diterbitkan pada 2011.

Serial ini bercerita tentang Kaneki Ken, seorang mahasiswa yang berubah menjadi makhluk setengah-ghoul setelah transplantasi organ dari seorang ghoul misterius.

Baca Juga: Intip Kisah Klaster Usaha Tanaman Hias Binaan BRI yang Sukses Jadi Mata Pencaharian Warga Sekitar

Dengan gaya visual yang gelap, penuh kontras dan simbolisme, Tokyo Ghoul dikenal memiliki estetika kuat yang mudah dikenali, dan telah menjadi inspirasi banyak kreator di seluruh dunia.

Fakta bahwa Windbreaker mengambil elemen visual dari karya seikonik Tokyo Ghoul memperbesar kekecewaan di kalangan fans dan memperkuat tuduhan bahwa ini bukan sekadar penggunaan referensi biasa.

Kata Naver Soal Skandal Plagiat:


Pihak Naver Webtoon selaku platform resmi dari Windbreaker akhirnya merilis pernyataan resmi. Mereka menyatakan bahwa setelah dilakukan peninjauan internal, ditemukan bahwa sejumlah adegan dalam Windbreaker memang memiliki komposisi dan susunan visual yang sangat mirip dengan karya lain.

Baca Juga: Han So Hee Bakal Gelar Fanmeet di Jakarta Oktober Ini, Siap-Siap Serbu Tiketnya!

“Dengan ini, kami memutuskan untuk menghentikan serialisasi dan layanan karya ini,” tulis Naver Webtoon.

Yang menjadi sorotan publik adalah fakta bahwa Naver sebelumnya sempat menjanjikan peningkatan sistem deteksi plagiarisme sejak mencuatnya beberapa kasus serupa pada tahun 2023.

Mereka bahkan menyebut akan mengembangkan teknologi AI untuk mendeteksi potensi pelanggaran hak cipta secara otomatis.

Baca Juga: Prabowo Berencana Temui Trump Langsung, Bahas Negosiasi Tarif Impor Dagang dengan Indonesia

Namun, kasus Windbreaker membuktikan bahwa pengawasan internal mereka belum efektif, menimbulkan pertanyaan baru soal transparansi dan konsistensi kebijakan mereka.

Reaksi Penggemar dan Masa Depan Sang Kreator

Reaksi dari pembaca pun beragam. Beberapa mengungkapkan rasa kecewa mendalam terhadap Jo Yongseok, namun tak sedikit pula yang menunjukkan simpati atas tekanan ekstrem yang dihadapi para kreator webtoon.

Di tengah ekspektasi tinggi dan jadwal rilis mingguan yang padat, banyak kreator yang menghadapi burnout dan krisis kreatif. Belum ada informasi lebih lanjut apakah Jo Yongseok akan kembali dengan karya baru di masa depan atau mengambil jeda panjang dari dunia komik digital.

Baca Juga: Geger! Diduga Pegawai Kemendagri, Polisi Selidiki Penemuan Mayat Tanpa Kepala di Kali Ciliwung

Tags

Terkini