Paula mengaku dirinya sudah memiliki pemahaman bahwa setiap rumah tangga pasti memiliki tantangan.
Namun, ia percaya bahwa kunci keberhasilan rumah tangga terletak pada bagaimana pasangan saling mentoleransi perbedaan.
"Dan sebelum aku menikah, aku sangat memahami namanya rumah tangga pasti ketidakcocokan itu ada, gimana cara kita mentoleransi," sambungnya.
Baca Juga: Terungkap di Sidang, Hasto Diduga Biayai 'Jalan Pintas' Harun Masiku ke DPR
Namun, setelah mereka resmi menikah dan mulai hidup bersama, perbedaan karakter mulai terlihat jelas.
Paula mengaku bahwa itulah momen awal terjadinya gesekan dalam hubungan mereka.
"(Begitu menikah) kan baru tinggal bareng, baru tahu karakter masing-masing," ujar Paula.
"Gesekan mulai," imbuhnya.
Meski konflik mulai muncul, Paula tak serta merta menyerah.
Baca Juga: Skor SPI Pendidikan Masih Jauh dari Ideal, KPK Beberkan Tiga Solusi Kunci
Ia mencoba memahami dan menganggap hal tersebut sebagai bagian dari proses adaptasi dalam pernikahan.
Bahkan, ketika ada perbedaan pendapat, Paula lebih memilih untuk mengalah demi menjaga keharmonisan rumah tangga.
"Kadang-kadang yang susah adalah ketika kita tidak melakukan kesalahan tapi kita meminta maaf, dan aku sudah dititik itu," ucapnya dengan penuh kesadaran.
Cerita Paula menjadi cerminan dari banyak pasangan yang mengawali pernikahan dengan niat baik namun kemudian diuji oleh perbedaan karakter dan pola komunikasi.
Meski kini telah berpisah, pengalaman yang dibagikan Paula menyiratkan bahwa ia pernah berusaha maksimal demi menjaga bahtera rumah tangganya.**
Artikel Terkait
Siapa Bupati Mandailing Natal? Lengkap dengan Rincian Harta Kekayaan yang Dimilikinya
Berapa Harta Kekayaan Wakil Bupati Nias Barat? Sozisokhi Hia Miliki Tanah dan Bangunan Senilai...
Harta Kekayaan Sokhiatulo Laia Bupati yang Bakal Pimpin Masyarakat Nias Selatan 5 Tahun ke Depan
Ahmad Dhani Dilaporkan Rayen Pono ke Polisi, Dul Jaelani Ungkap Didikan Ayahnya Soal Mengcover Lagu Hingga Perjuangan Sang Ayah
Hingga Akhir Maret 2025, BRI Telah Salurkan KUR Senilai Rp42,23 Triliun Guna Dorong Ekonomi Kerakyatan