INSIBERNEWS - Mudik Lebaran bukan hanya soal kesiapan finansial, tetapi juga mempersiapkan fisik, mental, dan doa agar perjalanan berlangsung lancar serta aman.
Memohon perlindungan kepada Allah SWT dengan doa sebelum berangkat menjadi langkah penting untuk menghindari berbagai risiko di perjalanan.
Ketika melakukan perjalanan, umat Islam dianjurkan untuk berdoa memohon kemudahan kepada Allah SWT karena perjalanan dapat menghadirkan berbagai risiko.
Baca Juga: Gandakan Perlindungan Jiwa dan Hati saat Ramadhan, Doa Rasulullah SAW untuk Mengusir Jin
Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa perjalanan dianggap sebagai setengah dari siksa, mengingat adanya potensi bahaya seperti kecelakaan, cuaca ekstrem, serangan binatang buas, hingga ancaman kejahatan seperti perampokan.
Selain itu, doa dari orang yang sedang dalam perjalanan termasuk salah satu doa yang mustajab. Rasulullah SAW bersabda:
روينا في كتب أبي داود والترمذي وابن ماجه عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ثلاث دعوات مستجابات لا شك فيهن دعوة المظلوم، ودعوة المسافر، ودعوة الوالد على ولده
Baca Juga: 30 Inspirasi Nama Anak Perempuan dari Al-Qur'an: Cantik, Bermakna, dan Penuh Doa
“Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: Ada tiga doa mustajabah yang tidak disangsikan lagi, yaitu doa orang teraniaya, doa orang dalam perjalanan, dan doa orang tua untuk anaknya,” (HR Abu Dawud, At-Tirmiżi, dan Ibnu Majah).
Untuk itu, Islam menganjurkan kita untuk berdoa kepada Allah SWT agar tidak menemukan kesulitan dalam perjalanan yang akan ditempuh.
Adapun doa kemudahan perjalanan yang berasal dari Nabi Muhammad SAW yang dapat dibaca ketika menempuh perjalanan adalah sebagai berikut:
Baca Juga: Fakta atau Mitos: Lupa Baca Doa, Setan Ikut Makan Makanan Kita?
اَللَّهُمَّ بِكَ أَسْتَعِيْنُ، وَعَلَيْكَ أَتَوَكَّلُ، اَللَّهُمَّ ذَلِّلْ لِي صُعُوْبَةَ أَمْرِيْ، وَسَهِّلْ عَلَيَّ مَشَقَّةَ سَفَرِيْ، وَارْزُقْنِيْ مِنَ الخَيْرِ أَكْثَرَ مِمَّا أَطْلُبُ، وَاصْرِفْ عَنِّي كُلَّ شَرٍّ، رَبِّ اشْرَحْ لِيِ صَدْرِيْ، وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ
Allāhumma bika asta‘īnu, wa ‘alaika atawakkalu. Allāhumma dzallil lī ṣu‘ūbata amrī, wa sahhil ‘alayya masyaqqata safarī, warzuqnī minal khairi mim mā aṭlubu, waṣrif ‘annī kulla ṣyarr, rabbiṣ-raḥlī ṣadrī wa yassir lī amrī.