news

Sempat Runtuh Ditelan Laut, Anak Krakatau Bangkit dan Bentuk Daratan Baru Seluas 341 Hektare

Sabtu, 26 September 2026 | 14:32 WIB
Gunung Anak Krakatau Alami Erupsi (Dok. PVMBKG)
 

INSIBERNEWS - Aktivitas vulkanik yang tiada henti membawa transformasi menakjubkan pada fisik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.
 
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat bahwa luas daratan gunung api tersebut kini telah menyentuh angka 341,5 hektare, sebuah pencapaian alamiah yang secara resmi telah melampaui ukuran tubuh gunung sebelum terjadinya tragedi longsoran besar pada pengujung 2018 silam.

Berdasarkan analisis citra satelit Sentinel per 15 September 2026, Kepala PVMBG, Rita Susilawati, mengungkapkan bahwa proses pemulihan daratan ini tergolong sangat masif.
 
Sebagai perbandingan, tepat sebelum erupsi dahsyat yang memicu tsunami, luas daratan tercatat sekitar 300 hektare, lalu merosot tajam akibat amblasnya lambung gunung ke dasar laut.
 
Baca Juga: Tak Pilih Jalur Politik Sang Ayah, Ini Jejak Emas Guruh Soekarnoputra di Panggung Seni Tanah Air

"Bencana keruntuhan sektor barat daya tersebut sempat memangkas drastis daratan gunung menjadi tersisa 246,18 hektare per 26 Desember 2018," terang Rita menjelaskan dampak destruktif dari peristiwa kelam tersebut.

Fase kebangkitan fisik ini sejalan dengan temuan riset kolaboratif antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan sejumlah institusi top dunia yang mengonfirmasi bahwa gunung ini tengah berada dalam tahap pembangunan kembali (rebuilding phase).
 
Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Dini Nurfiani, memaparkan bahwa evolusi Anak Krakatau menjadi bukti nyata betapa dinamisnya sistem geologi sebuah gunung api yang bisa hancur lalu perlahan membentuk kerucut baru.

"Sejarah erupsi Anak Krakatau menunjukkan bahwa gunung api ini berkembang melalui siklus pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, dan pembangunan kembali. Setelah kolaps pada 2018, morfologi dan gaya erupsi berubah secara drastis, lalu diikuti fase pertumbuhan kembali melalui erupsi dan pembentukan lava baru," jelas Dini.
 
Baca Juga: Pendidikan Gratis SD-SMA hingga Kuliah Ditargetkan Mulai 2028, Total Anggaran Rp302 Triliun

Lebih jauh, tim peneliti menggarisbawahi bahwa rekonstruksi mandiri alam ini tidak terjadi secara simetris di seluruh sisinya.
 
Endapan material dari erupsi yang terus-menerus membuat sektor barat daya tumbuh bertumpu di atas lereng kaldera bawah laut yang sangat curam, sementara bagian timur laut perlahan membesar di atas dasar perairan yang jauh lebih dangkal.

Secara struktur anatomi, tubuh raksasa baru ini terbentuk dari tumpukan material lava padat yang menindih lapisan tuf berpori nan ringan.
 
Ketidakmerataan fondasi ini, dipadukan dengan gaya erupsi yang telah bertransisi kembali ke tipe Strombolian penghasil lelehan lava sejak 2019, menjadi catatan penting bagi para ahli dalam memantau potensi instabilitas lereng Anak Krakatau di masa depan.***

Tags

Terkini