INSIBERNEWS - Militer Amerika Serikat melancarkan operasi besar-besaran dengan menyerang lebih dari 80 target militer di Iran sebagai respons atas meningkatnya ketegangan di kawasan Selat Hormuz.
Langkah tersebut diambil setelah Washington menuding Teheran berada di balik serangkaian serangan terhadap kapal-kapal dagang yang melintasi jalur pelayaran strategis tersebut.
Dalam pernyataan resminya, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyebut operasi itu menyasar berbagai fasilitas pertahanan Iran, mulai dari sistem pertahanan udara, radar pesisir, pusat komando dan kendali, hingga kemampuan rudal antikapal.
Selain itu, lebih dari 60 kapal cepat milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di sekitar Selat Hormuz juga menjadi sasaran serangan.
Baca Juga: Modi ke Indonesia, Kerja Sama Energi dengan India Diproyeksi Makin Luas dari Migas hingga Batu Bara
Menurut CENTCOM, operasi tersebut bertujuan mengurangi kemampuan militer Iran dalam melancarkan serangan terhadap jalur perdagangan internasional. Washington juga menegaskan pasukannya tetap berada dalam kondisi siaga dan siap mengambil langkah lanjutan apabila situasi keamanan di kawasan kembali memburuk atau kesepakatan gencatan senjata dilanggar.
Di sisi lain, media pemerintah Iran melaporkan sejumlah ledakan terdengar di wilayah selatan negara itu pada Rabu dini hari.
Meski demikian, hingga kini belum ada keterangan resmi mengenai jumlah korban maupun tingkat kerusakan akibat serangan tersebut. Otoritas Iran juga belum mengeluarkan laporan rinci mengenai dampak operasi militer yang dilakukan Amerika Serikat.
Baca Juga: Kasus Korupsi Batu Bara PLTU Naik Penyidikan, Polisi Usut Dugaan TPPU dan Kerugian Rp5 Triliun
Situasi semakin memanas setelah Qatar melayangkan protes diplomatik kepada Iran terkait dugaan serangan terhadap kapal berbendera Qatar, Al Rekayyat, yang berlayar di sekitar Selat Hormuz. Pemerintah Qatar memanggil Wakil Duta Besar Iran di Doha untuk meminta penjelasan atas insiden tersebut yang dinilai mengancam keamanan pelayaran internasional.
Iran membantah tuduhan itu. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan negaranya tetap berkomitmen menjaga keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
Namun, ia mengingatkan bahwa kapal-kapal yang tidak mengikuti jalur pelayaran sesuai koordinasi dengan otoritas Iran berpotensi menghadapi risiko keamanan di kawasan tersebut.
Baca Juga: GHARIS Laporkan Lonjakan Harta AHY dan Ibas ke KPK, Ini 3 Poin yang Dipersoalkan
Sementara itu, televisi pemerintah Iran, IRIB, mengklaim kapal tanker Qatar yang melintas melalui jalur Oman dengan pengawalan Angkatan Laut Amerika Serikat menjadi sasaran setelah disebut mengabaikan sejumlah peringatan dari pasukan Iran. Insiden ini kembali meningkatkan kekhawatiran dunia terhadap stabilitas kawasan Teluk dan potensi terganggunya distribusi energi global apabila eskalasi konflik terus berlanjut.***