INSIBERNEWS - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi sorotan setelah muncul desakan agar gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran tidak hanya terbatas pada kedua negara tersebut, tetapi juga diperluas ke Lebanon.
Seruan ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong, yang menilai konflik di Lebanon berpotensi menggagalkan stabilitas kawasan secara keseluruhan.
Dalam wawancara dengan media nasional Australia, Wong menegaskan bahwa keberlanjutan konflik di Lebanon dapat menjadi ancaman serius bagi efektivitas gencatan senjata yang telah disepakati.
Ia memperingatkan bahwa jika kekerasan terus berlanjut, maka upaya meredakan ketegangan di Timur Tengah bisa sia-sia.
Australia secara tegas meminta semua pihak yang terlibat, termasuk Hizbullah dan Israel, untuk menahan diri dan mematuhi semangat gencatan senjata tersebut.
Menurut Wong, kepatuhan terhadap kesepakatan damai menjadi kunci utama dalam mencegah eskalasi konflik yang lebih luas.
Baca Juga: Gegara Judol, Seorang Anak Tega Bunuh dan Mutilasi Ibu Kandung di Lahat Sumsel
Pernyataan ini muncul setelah serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Israel ke berbagai wilayah di Lebanon pada Rabu (8/4/2026).
Serangan tersebut memperparah situasi keamanan dan memicu kekhawatiran internasional terhadap meningkatnya korban jiwa serta kerusakan infrastruktur.
Tak hanya Australia, sejumlah negara lain juga menyuarakan keprihatinan yang sama.
Dalam pernyataan bersama yang dirilis pada Kamis dini hari waktu Australia, para menteri luar negeri dari beberapa negara termasuk Inggris, Brasil, Kolombia, Indonesia, Yordania, dan Sierra Leone menyerukan penghentian segera konflik di Lebanon.
Baca Juga: Hemat APBN, Menkeu Purbaya Pangkas Perjalanan Luar Negeri Pejabat Hingga 70 Persen
Mereka menyoroti kondisi kemanusiaan yang terus memburuk, terutama di wilayah Lebanon selatan.