entertainment

Opini: Media di Persimpangan, Ketika Idealisme Tak Cukup Membayar Gaji

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 19:20 WIB
Opini: Media di Persimpangan, Ketika Idealisme Tak Cukup Membayar Gaji (Istimewa)


INSIBERNEWS - Terdapat satu kenyataan yang mungkin rasanya bakal tidak nyaman untuk dibicarakan di kalangan pers: idealisme itu penting, tetapi idealisme saja tidak cukup untuk membayar gaji.

Kalimat ini mungkin terdengar pragmatis. Bahkan bisa dianggap terlalu bisnis. Tetapi justru karena saya percaya pada jurnalisme, persoalan ini harus dibicarakan secara terbuka.

Wartawan harus digaji. Editor harus digaji. Kantor, teknologi, server, liputan, perjalanan, semuanya membutuhkan biaya. Pers membutuhkan idealisme untuk tetap dipercaya. Tetapi perusahaan pers membutuhkan bisnis untuk tetap hidup.

Baca Juga: KPK Bongkar Tiga Klaster Korupsi Jalur Mandiri Unsoed, Pungutan Gelap Bikin Orang Tua Menjerit

Persoalan saat ini, lanskap bisnis media berubah begitu cepat. Dulu, ketika orang membutuhkan informasi, media menjadi tujuan utama. Ketika perusahaan ingin menjangkau publik, media menjadi salah satu pintu utama. Audiens ada di media, maka iklan pun datang ke media.

Hari ini, situasinya berbeda. Perhatian publik sudah tersebar ke mana-mana. Ada TikTok, Instagram, YouTube, podcast, influencer, KOL, content creator, streamer, akun komunitas, dan entah apa lagi yang akan lahir setelah ini.

Semuanya memperebutkan satu komoditas yang sama: perhatian manusia (attention). Dan ke mana perhatian pergi, uang biasanya mengikuti. Anggaran komunikasi perusahaan yang dulu banyak mengalir ke media kini harus berbagi dengan influencer, KOL, creator, digital agency, platform social media, marketplace hingga live commerce.

Baca Juga: Prabowo Tiba di Kalbar, Langsung Pimpin Rapat Penanganan Karhutla

Kue ekonominya tidak hilang. Kuenya berpindah meja. Ironisnya, ketika ekosistem media semakin besar, banyak perusahaan pers justru semakin kecil. Redaksi yang dahulu berisi ratusan orang menyusut jadi puluhan orang. Bahkan semakin banyak media yang bertahan hanya dengan tiga sampai lima orang.

Bukan karena mereka tiba-tiba kehilangan idealisme. Sering kali persoalannya sederhana: pendapatannya tidak lagi sanggup menopang struktur biaya lama. Di sinilah menurut saya kita perlu membedakan antara media dan perusahaan pers. Media sebenarnya tidak sedang mati. Justru sebaliknya, media sedang meledak.

Hari ini hampir setiap orang bisa menjadi media. Satu orang dengan smartphone dapat memproduksi informasi, membangun audiens jutaan orang, memengaruhi keputusan publik, bahkan menghasilkan pendapatan yang mungkin lebih besar daripada sebuah perusahaan pers dengan belasan karyawan.

Baca Juga: KSAL Tinjau Karhutla Guntung Damar Banjarbaru, Klaim Tak Separah yang Viral

Kita boleh menyebut mereka influencer, KOL, YouTuber, TikToker, podcaster atau content creator. Tetapi secara fungsi, mereka melakukan sebagian pekerjaan yang selama puluhan tahun menjadi kekuatan media: memproduksi pesan, mendistribusikannya, membangun audiens dan memengaruhi publik.

Tentu pers berbeda. Jurnalisme mempunyai verifikasi, kode etik, tanggung jawab dan disiplin profesi. Nilai-nilai itu tidak boleh dibuang hanya karena zaman berubah. Justru di situlah kekuatan pers. Tetapi industri pers juga jangan terjebak merasa paling berhak disebut media.

Masyarakat ketika membuka TikTok atau YouTube tidak selalu bertanya apakah sebuah informasi dibuat oleh perusahaan pers atau seorang creator. Mereka lebih sering bertanya: menarik atau tidak, berguna atau tidak, dan yang paling penting, bisa dipercaya atau tidak.

Halaman:

Tags

Terkini