INSIBERNEWS — Bertahun-tahun dunia mengenalnya sebagai Oscar Lawalata seorang maestro mode Tanah Air yang menyulap kain tradisional Indonesia menjadi karya adibusana di panggung internasional.
Namun di balik gemerlap karier dan sorotan lampu runway, tersimpan kisah panjang pencarian jati diri yang akhirnya membawanya pada identitas baru sebagai Asha Smara Darra.
Perjalanan Asha menuju perempuan seutuhnya bukanlah cerita yang terjadi dalam semalam. Ia tidak hanya harus menghadapi pergolakan batin dan pertanyaan yang mengganggu sejak usia belia, tetapi juga tembok besar berupa ekspektasi sosial, budaya patriarki, serta hukum negara yang belum ramah terhadap keberagaman gender.
Baca Juga: Lesti Kejora Menangis di MK Soal UU Hak Cipta, Begini Tanggapan Hotman Paris
Pada tahun 2020, Oscar Lawalata membuat keputusan terbesar dalam hidupnya: menjalani operasi penyesuaian kelamin dan secara terbuka mengidentifikasi sebagai transwoman.
Bukan sekadar perubahan fisik, namun transisi ini adalah bentuk rekonsiliasi terhadap apa yang selama ini terpendam kebenaran tentang siapa dirinya sebenarnya.
“Asha” berarti harapan, “Smara” berarti cinta, dan “Darra” berarti kekuatan. Nama ini bukan sekadar label baru, tetapi lambang dari versi dirinya yang paling jujur dan paling damai.
Baca Juga: Dianggap Mengganggu dan Diharamkan, Sound Horeg Justru Mau Dilombakan Bupati Blitar?
“Saya tak ingin lagi berpura-pura menjadi seseorang yang bukan saya,” ujarnya dalam podcast bersama Grace Tahir baru-baru ini.
Dalam percakapan itu, Asha membuka kisahnya secara emosional. Ia menceritakan bagaimana keluarganya, terutama sang ibu yang juga publik figur, harus melalui masa penyesuaian emosional yang tidak mudah.
“Awalnya tentu ada kaget, tapi seiring waktu mereka belajar menerima. Cinta itu berkembang ketika kita jujur,” katanya.
Baca Juga: Berawal dari Dapur Rumah Hingga Tembus Pasar Global, Usaha Sambal Ini Tumbuh Lewat Pemberdayaan BRI
Kini, Asha hidup sebagai perempuan, telah menikah, dan bahkan membuka peluang untuk memiliki anak. “Kalaupun saya married dan mungkin (soal) anak angkat... We never know-lah,” ucapnya ringan, dengan nada optimis.
Namun kebahagiaan personal ini berdiri berdampingan dengan kenyataan hukum yang masih timpang. Di Indonesia, menjadi seorang transwoman masih jauh dari kata mudah.
Hukum belum sepenuhnya mengakomodasi pengakuan identitas gender di luar biner pria-perempuan biologis.
Baca Juga: Kekayaan Nadiem Makarim Turun Drastis, KPK Soroti Proyek Google Cloud di Kemendikbud
Meski beberapa pengadilan pernah mengesahkan perubahan jenis kelamin secara legal, mekanismenya tidak terstandar dan bergantung pada subjektivitas hakim.
Undang-Undang Administrasi Kependudukan, misalnya, tidak menyebutkan secara eksplisit hak warga negara untuk mengubah identitas gender di dokumen resmi.
Hal ini membuat banyak transpuan kesulitan dalam mengakses hak-hak dasar seperti pekerjaan, layanan kesehatan, bahkan pendidikan.
Baca Juga: Setelah Skandal dengan Syahnaz, Rendy Kjaernett Kembali Diterpa Isu Perselingkuhan
Di luar dokumen legal, stigma sosial dan kekerasan berbasis gender juga menjadi bayang-bayang yang tak terelakkan.
Banyak transwoman yang akhirnya terpinggirkan secara sistemik. Mereka bukan hanya mengalami diskriminasi, tapi juga sering kali tidak dilindungi hukum ketika menjadi korban kekerasan.
Sebagai seorang seniman, Asha kini memadukan narasi identitas dan budaya dalam karya-karyanya. Ia aktif dalam berbagai diskusi tentang keberagaman gender dan menjadi inspirasi bagi banyak generasi muda yang tengah bergulat dengan identitasnya.