INSIBERNEWS - Terdapat tantangan tersendiri bagi Tim Nasional Iran. Bukan hanya karena persaingan di lapangan, tetapi juga akibat ketegangan politik yang masih berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat.
Jelang turnamen terbesar sepak bola dunia itu, skuad berjuluk Tim Melli harus menghadapi aturan perjalanan yang sangat ketat saat menjalani pertandingan di wilayah Amerika Serikat. Otoritas AS disebut hanya mengizinkan tim Iran masuk dan keluar dari negara tersebut pada hari yang sama dengan jadwal pertandingan.
Utusan Iran, Abolfazl Pasandideh, mengungkapkan bahwa timnya tidak diperbolehkan menginap di Amerika Serikat selama turnamen berlangsung.
"Kami bisa masuk pada pagi hari dan harus keluar pada hari yang sama," ujarnya kepada wartawan, seperti dikutip AFP.
Baca Juga: Tragis! Bocah 11 Tahun di Sragen Tewas dengan Luka Sayatan, Motor dan HP Mendadak Hilang
Situasi politik yang memanas antara Washington dan Teheran membuat Iran membatalkan rencana menjadikan Tucson, Arizona, sebagai markas utama selama Piala Dunia 2026.
Sebagai gantinya, Iran memilih bermarkas di Tijuana, Meksiko, yang lokasinya relatif dekat dengan sejumlah kota tuan rumah di Amerika Serikat.
Pada Sabtu (6/6/2026), skuad Iran resmi meninggalkan Turkiye dan terbang menuju Tijuana. Mereka dijadwalkan menetap di kota tersebut sepanjang fase grup hingga kompetisi berakhir.
Visa Pemain Disetujui, Staf Pendukung Ditolak
Meski para pemain akhirnya mendapatkan visa masuk ke Amerika Serikat pada malam sebelum keberangkatan ke Meksiko, sejumlah anggota staf pendukung justru mengalami penolakan visa.
Baca Juga: Sarwendah Buka Suara dan Minta Maaf, Soroti Dampak Konflik terhadap Anak-Anak
Kondisi tersebut memicu reaksi keras dari pihak Iran. Kedutaan Besar Iran di Turkiye menuding Amerika Serikat melakukan perlakuan diskriminatif terhadap tim nasional mereka.
Dalam pernyataan yang dipublikasikan melalui media sosial X, pihak kedutaan menyebut kebijakan tersebut sebagai bentuk perlakuan yang tidak adil dan meminta FIFA turun tangan.
Iran juga mendesak FIFA untuk meminta pertanggungjawaban Amerika Serikat atas dugaan pelanggaran terhadap prinsip dan regulasi yang berlaku dalam penyelenggaraan turnamen internasional.
Laporan sejumlah media menyebut Ketua Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, termasuk di antara pihak yang tidak memperoleh visa masuk ke Amerika Serikat.