INSIBERNEWS — Ariel NOAH, vokalis sekaligus pentolan grup band NOAH yang dikenal sebagai salah satu ikon musik Indonesia, kembali angkat bicara mengenai isu hangat di industri hiburan Tanah Air.
Pria bernama asli Nazril Irham itu menyoroti polemik royalti lagu di tempat usaha seperti kafe, restoran, dan bar yang belakangan menuai pro dan kontra.
Ariel, yang telah berkarya di dunia musik sejak era 2000-an dan dikenal lewat lagu-lagu hits seperti Separuh Aku dan Menghapus Jejakmu, menyampaikan kekhawatirannya bahwa polemik ini bisa berdampak buruk pada minat masyarakat terhadap musik lokal.
Baca Juga: DPP PDIP Gelar Rapat Perdana Pasca Kongres, Publik Tunggu Pengumuman Sekjen Baru
Menurutnya, jika persoalan ini tidak segera diselesaikan, akan ada risiko besar musik Indonesia kalah bersaing di rumah sendiri.
Awal mula polemik ini bermula dari penerapan aturan royalti yang mengharuskan pelaku usaha membayar biaya lisensi untuk memutar lagu-lagu di tempat publik.
Meskipun secara hukum aturan ini sudah diatur dalam Undang-Undang Hak Cipta, pelaksanaannya memicu penolakan dari sejumlah pengusaha.
Baca Juga: Fakta Menarik Dinda, Member Baru SECRET NUMBER dari Indonesia
Beberapa kafe bahkan memilih berhenti memutar lagu Indonesia dan beralih ke musik luar negeri demi menghindari pembayaran royalti.
Bagi Ariel, fenomena ini sangat memprihatinkan. "Saya khawatir takutnya kalau polemik royalti ini berkepanjangan, orang-orang jadi takut nyanyikan lagu Bahasa Indonesia dan memilih lagu luar," ungkapnya dalam sebuah kesempatan berbincang dengan media.
Ariel menegaskan bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah penikmat musik terbesar di Asia, dan masyarakatnya masih memiliki kecintaan yang tinggi terhadap karya lokal.
Baca Juga: Elon Musk Ancam Gugat Apple, Tuduh Manipulasi Peringkat Aplikasi AI di App Store
Jika akses untuk menikmati musik tersebut dipersulit, dikhawatirkan akan memicu pergeseran selera musik ke arah yang merugikan musisi dalam negeri.
Menurutnya, masalah royalti sebenarnya bisa diselesaikan dengan pendekatan yang lebih bijak. Ia mendorong adanya komunikasi terbuka antara lembaga pengelola royalti, musisi, dan para pelaku usaha.
Dengan begitu, aturan bisa berjalan tanpa memberatkan satu pihak, sekaligus tetap memberikan perlindungan bagi hak cipta pencipta lagu.
Baca Juga: Agensi Secret Number Tuai Kritik, Usai Umumkan 4 Member Baru, Kok bisa?
Ariel menilai, jika situasi ini terus dipersulit tanpa solusi, industri musik Tanah Air akan mengalami kerugian yang tidak sedikit.
"Kalau orang lebih memilih memutar lagu luar negeri, otomatis musisi lokal kehilangan wadah untuk memperkenalkan karya mereka," ujarnya.
Sebagai musisi yang telah mengalami pasang surut industri musik, Ariel memahami betul pentingnya perlindungan hak cipta.
Baca Juga: Berencana Hadiri Upacara Kemerdekaan di Istana Merdeka? Berikut Saran Pakaian dari Mensesneg untuk Masyarakat
Namun, ia juga melihat perlunya kebijakan yang realistis agar musik Indonesia tetap hidup di ruang publik, terutama di kafe dan restoran yang sering menjadi tempat promosi tidak langsung bagi karya musisi.
Polemik ini bukan hanya soal bisnis, tetapi juga soal keberlangsungan budaya musik Indonesia.
Ariel menyebut bahwa musik bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari identitas bangsa. Kehilangan ruang putar bagi lagu lokal berarti melemahkan ekosistem musik itu sendiri.
Baca Juga: Presiden Prabowo Pimpin Upacara 17 Agustus, Warga Diminta Hentikan Aktivitas Selama 3 Menit
Ia pun berharap pemerintah dan pihak terkait segera mencari jalan tengah. Ariel yakin, jika semua pihak duduk bersama untuk membicarakan masalah ini, akan ada solusi yang adil bagi musisi sekaligus pelaku usaha.
Di akhir pernyataannya, Ariel kembali menegaskan bahwa musik Indonesia memiliki potensi besar untuk terus berkembang, selama mendapatkan dukungan penuh dari masyarakat dan pemerintah.
"Kita semua punya tanggung jawab menjaga agar musik Indonesia tidak tergeser di negeri sendiri," tutupnya.
Baca Juga: Presiden Prabowo Pimpin Upacara 17 Agustus, Warga Diminta Hentikan Aktivitas Selama 3 Menit