news

Bukan Sekadar Adzan, Pengeras Suara Masjid di Indonesia Bakal Disulap Jadi Alarm Gempa

Senin, 12 Oktober 2026 | 13:52 WIB
Tim ilmuwan Jepang dan Indonesia menguji pengeras suara masjid sebagai bagian dari proyek peringatan dini gempa bumi (Ig/nurulkjo1).

INSIBERNEWS - Berada tepat di kawasan Cincin Api Pasifik membuat Indonesia terus memutar otak untuk meracik sistem mitigasi bencana yang paling efektif.

Sebuah terobosan inovatif kini tengah diuji coba oleh pemerintah, yakni dengan memanfaatkan jaringan pengeras suara masjid yang tersebar luas hingga ke pelosok desa untuk diubah fungsinya menjadi alarm peringatan dini gempa bumi.

Proyek percontohan yang ditargetkan berjalan hingga tahun 2030 ini merupakan hasil kolaborasi riset strategis antara ilmuwan Jepang dan Indonesia.

Baca Juga: Api Hanguskan 54 Ribu Hektare Taman Nasional Tanjung Puting, Relawan Kewalahan Minta Bantuan Helikopter

Secara teknis, sejumlah masjid yang menjadi proyek rintisan telah mulai dihubungkan langsung dengan jaringan sensor seismik, sehingga menara pelantang suara tersebut bisa otomatis memberikan peringatan krusial sesaat sebelum guncangan besar terjadi.

Gagasan brilian ini lahir dari buah pemikiran Dr. Inoue Hiroshi, seorang pakar dari Institut Penelitian Pencegahan Bencana Universitas Kyoto, kala meneliti rekam jejak gempa mematikan di Sumatra.

Ia menyadari bahwa infrastruktur peringatan dini konvensional milik pemerintah kerap rusak karena minim perawatan, sementara fasilitas tempat ibadah selalu dirawat dan dijaga kelestariannya secara swadaya oleh warga sekitar.

Baca Juga: Viral Bullying di Asrama Telkom University, Satu Mahasiswa Kena DO

"Setiap komunitas memiliki masjid," papar Inoue menyoroti tingginya potensi keberhasilan pemanfaatan fasilitas tersebut, sebagaimana dilansir dari laporan The Guardian pada Senin (12/10/2026).

Keberadaan masjid yang menjamur di hampir setiap sudut permukiman warga Nusantara dinilai sebagai sebuah keuntungan demografis yang luar biasa.

Sistem penyampaian informasi darurat berbasis komunitas agama ini berpotensi besar menambal kelemahan teknologi modern, mengingat jaringan telekomunikasi seluler sering kali lumpuh total sesaat setelah gempa dahsyat melanda suatu daerah.

Baca Juga: Gunung Anak Krakatau Naik Status Jadi Siaga, Warga Dilarang Mendekat Radius 5 Kilometer

Andi Eka Sakya selaku peneliti senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sekaligus kepala tim riset gabungan Indonesia memandang inisiatif ini sebagai lompatan besar dalam dunia mitigasi.

Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa tantangan terbesarnya adalah waktu respons yang teramat sempit, di mana warga dalam radius 50 kilometer dari pusat gempa umumnya hanya punya rentang waktu lima hingga 10 detik untuk bereaksi menyelamatkan diri.

Halaman:

Tags

Terkini